READING

Chef Jon Priadi: Mengembalikan Popularitas Sorgum

Chef Jon Priadi: Mengembalikan Popularitas Sorgum

Hampir tak ada lagi orang Indonesia kini yang mengenal sorgum. Jenis biji-bijian yang dulu pernah menjadi bahan makanan utama, terutama di pelosok desa, ini telah tergusur oleh penanaman beras yang masif di awal era Orde Baru. Makanan pokok seperti jagung, ketela, dan sorgum pun tersisih.

Ditemui di sela-sela kesibukannya di Ubud FoodFestival 2017, Chef Jon Priadi koki yang meraup ilmu memasak di Australia bertekad ingin mengembalikan masa-masa terbaik sorgum. “Saya mendapatkannya dari Flores. Di sana sudah ada yang mengolah sorgum menjadi tepung,” jelasnya saat menggelar sessi masterclass “Ancient Grains” pada Minggu (14/5/2017) di Casa Luna Cooking School, Ubud.

Jon saat itu mengolah sorgum untuk didampingi dengan beberapa menu, seperti crepes, selai rosela, sambal kenari, dan gnocchi. Menurutnya, kini sorgum mulai dilirik oleh beberapa koki untuk diolah menjadi makanan yang bisa dikombinasikan dengan berbagai macam sajian.

“Di Australia dulu sorgum hanya menjadi pakan ternak, tapi kini sudah mulai diolah untuk berbagai hidangan. Untuk dijadikan salad, misalnya,” terang Chef Jon.

Di Indonesia sendiri sorgum belum banyak dieksplor, padahal menurut penelitian sorgum adalah makanan mengenyangkan yang memiliki kandungan lebih baik dari nasi. Selain rendah karbohidrat, sorgum juga tinggi protein dan disinyalir mampu mencegah kanker.

Foto: mitrainsani.or.id

Dari Mesir ke Indonesia

Sorgum sendiri diperkirakan sudah ada sejak 8.000 tahun lalu di Mesir. Karena jalur perdagangan yang berkembang saat itu, sorgum sempat menjelajah Afrika hingga menjadi populer di Afrika Selatan sebelum masuk ke Asia Selatan melalui India.

Tanaman sorgum termasuk cocok untuk berkembang di Indonesia karena sorgum tak memerlukan banyak air untuk tumbuh. Dalam setahun sorgum mampu menghasilkan beberapa kali panen dan dalam mengolahnya untuk menjadi makanan hanya butuh waktu sekitar 15 hingga 20 menit.

Sepintas, sorgum memang mirip dengan nasi merah, namun sorgum bentuknya lebih bulat. Rasanya pun nyaris serupa dengan nasi jadi sangat memungkinkan untuk menjadi makanan pengganti nasi.

“Sorgum ini sangat sehat, sayangnya masyarakat kita sudah terlanjur menganggap bahwa makan harus selalu dengan nasi,” terang Jon.

“Saat ini tren hidup sehat sudah mulai berkembang dan sudah ada yang tertarik untuk mengembangkan kembali sorgum. Semoga nantinya akan lebih berkembang,” tambah Jon.


Good Indonesian Food is a team of foodies working to preserve and promote Indonesian culinary.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *