Jakarta: Gudeg Pak Atmo

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Gandaria memiliki restoran gudeg terbaik di Jakarta. Bermula dari iseng-iseng browsing di internet saat sedang mencari restoran gudeg yang enak, keluarlah nama Gudeg Pak Atmo. Meski awalnya tidak yakin, saya memutuskan untuk menyambanginya. Berpedoman pada Google Maps, restorannya cukup mudah ditemukan. Di antara restoran ikan bakar dan restoran Eropa, terselip restoran bercita rasa khas Yogyakarta ini. Bagian luar restoran berwarna hijau dengan lahan parkir yang hanya bisa menampung tiga mobil kecil.

 

Setia Menjaga Rasa

Suasana restoran sederhana itu tampak sepi di siang menjelang sore hari. Namun, bukan berarti kosong sama sekali karena ada satu atau dua pengunjung yang duduk di meja, menunggu pesanan. Di bagian depan, Anda bisa langsung melihat lemari kaca dengan baskom besar berisi aneka lauk, seperti gudeg, ayam panggang, sambal krecek, hingga telur pindang. Dari bincang-bincang saya dengan salah satu pegawai di sana, masakan gudeg ini dibuat dalam porsi kecil dan bila sudah habis baru dimasak lagi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kekhasan rasa masakannya agar tidak hilang karena dipanaskan berulang kali.

gudeg pak atmo

 

Dari Solo ke Jakarta

Salah satu hal yang tidak saya kira adalah Yosef Atmorahardjo, atau Pak Atmo, merupakan kepala juru masak Mangkunegaran dan sudah sering menghidangkan masakannya untuk perjamuan istana. Pada 1963, beliau pindah ke Gandaria dan membuka warung gudeg di sana yang bertahan hingga sekarang. Sekarang, warung ini dijalankan oleh cucu keenam Pak Atmo, Cosmas Aprilianto, dibantu ibu dan tiga orang bibinya yang memastikan kualitas masakan tetap terjaga.

Begitu didekati pelayan, saya langsung memesan seporsi gudeg komplet. Selain gudeg, mereka juga memiliki hidangan lain, seperti nasi timbel, nasi urap, nasi rames, nasi asem- asem daging, dan nasi ayam panggang. Gudeg Pak Atmo juga melayani bungkus dan pesanan nasi kotak untuk berbagai acara.

Saat menyuap nasi gudegnya, benak saya langsung terbawa ke suasana Solo tempo dulu. Bumbu gudegnya begitu pas. Tidak terlalu pekat, tapi juga tidak terlalu manis sampai membuat begah. Telur pindangnya gurih hingga ke bagian dalam dan ayam panggangnya empuk, matang sempurna, dan terasa lezat hingga ke bagian dalamnya. Hal yang saya kagumi adalah nangka yang disajikan terasa manis, tetapi menyatu dengan lauk lainnya. Sambal kreceknya pun gurih, tetapi tidak terlalu pedas sehingga Anda yang kurang suka pedas masih bisa menikmatinya.

Anda juga bisa membaca artikel ini di The Jakarta Post: Royal ‘gudeg’ recipe attracts many in South Jakarta

Jalan Gandaria 1 Persil 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
T: (021) 7251882
Buka Senin-Minggu, pukul 08.00-16.30 WIB
Rp50.000/US$3,70 per orang


RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM
KNOW US BETTER