Jakarta: Kedai Tjikini

Ingar-bingarnya mungkin kalah jika dibandingkan Bakoel Koffie yang hanya berjarak lima meter, tetapi Kedai Tjikini jelas tidak bisa saya lewatkan begitu saja. Jumat sore, setelah menyelesaikan urusan di daerah Menteng, saya langsung menuju Kedai Tjikini. Letaknya persis berhadapan dengan Menteng Huis. Karena posisinya di tepi jalan, untuk urusan parkir, hanya bisa mengandalkan mobil atau motor yang pergi dari tempat ini. Kalau mau repot, Anda bisa parkir di Menteng Huis lalu menyeberang ke Kedai Tjikini.

Nuansa zadul langsung terasa saat masuk ke dalam kedai ini. Sekilas mengingatkan saya dengan Bakoel Koffie yang menggunakan kursi dan meja kayu yang menghasilkan suasana autentik Cikini jaman dulu. Namun, ada beberapa hal yang sangat membedakan Kedai Tjikini dengan kedai sebelah. Hiasan di dinding tidak semeriah Bakoel Koffie dan lebih tenang. Cocok untuk Anda yang ingin menikmati secangkir kopi dan camilan sambil mengobrol santai dengan teman.

kedai tjikini

Meskipun bernuansa tempo dulu, ternyata Kedai Tjikini tergolong baru karena mulai beroperasi pada 2011. Pendirinya adalah empat sekawan Dharmawan Handonowarih, Heni Wiradimadja, Enrico Halim, dan Leo. Cikini bukanlah awal lokasi yang diinginkan oleh Dharmawan dan Enrico karena keduanya sempat berkeliling ke Jalan Abdul Muis, Jalan Kesehatan, Salemba Tengah, Jalan Samanhudi, Menteng, Pintu Air, hingga Pasar Baru.

Kecintaan keduanya pada tempo dulu, selain tecermin dari interior, juga dari menu yang disajikan, seperti es krim Tjanang, Ragusa, dan Baltic. Ada pula Sarsaparila Cap Badak yang dibuat di Pematang Siantar sejak 1916 dan kue dari Toko Oen Semarang. Untuk kopi, Kedai Tjikini mengambil dari Warung Tinggi (Tek Soen Ho), warung kopi Wong Hin Jatinegara, dan Aroma Fabrik Bandung.

Namun, sore itu, perhatian saya malah tertuju pada ikan kembung bumbu tauco. Mungkin karena saran seorang teman yang sering ke sini dan mempromosikan menu ini. Maka, saya tertarik memesan. Saat terhidang, penampilannya langsung menggugah selera. Bau sedap pun menguar, menggelitik indera penciuman saya. Sepiring ikan kembung utuh disajikan di atas piring, disiram kuah santan dan diberi potongan tahu kuning. Daging ikannya terasa lembut dan gurih. Karena digoreng terlebih dulu, meskipun disiram kuah, tidak membuat bagian luarnya lembek. Kuahnya mengingatkan saya dengan sayur lodeh, tetapi tidak terlalu pekat. Kalau Anda mau berbagi, satu porsi ikan bisa untuk dua orang.

Jl. Raya Cikini No. 17, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat
No. Telp: (021) 31935521
Buka Senin-Minggu, 09.00–23.00
Rp60.000 per orang / $4,4 per orang

 


RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM
KNOW US BETTER