READING

Martabak Manis, Makanan Tradisional yang Digemari ...

Martabak Manis, Makanan Tradisional yang Digemari Millennial

Tak bisa dipungkiri, martabak manis merupakan camilan kegemaran sebagian besar masyarakat kita. Acara temu keluarga atau sekadar bercengkrama dengan teman-teman di rumah akan lebih nikmat dengan adanya kudapan manis dan lezat ini.

Kehadiran martabak manis, yang juga dikenal sebagai kue terang bulan, kue bandung, atau apam pulau pinang, berawal dari Kepulauan Bangka bertahun-tahun yang lalu. Namun, sekarang, keberadaannya sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri ini.

Kecintaan saya terhadap martabak manis tumbuh sejak saya masih kanak-kanak. Dari berbagai rasa yang tersedia, martabak manis dengan isian cokelat keju adalah pilihan yang tidak pernah saya lewatkan. Pada masa itu, di era ‘90-an, saya mengenal martabak manis dengan isian cokelat, keju, kacang, wijen, dan kombinasi dari isian-isian tersebut. Pilihan-pilihan ini bisa dikatakan sudah cukup variatif pada masanya.

Seiring berkembangnya zaman dan makin gencarnya serangan produk-produk penganan dan kudapan mancanegara, orang-orang mulai mendambakan rasa baru di setiap potong martabak manis yang mereka lahap.

Pada awal 2000-an, banyak penjual yang mulai mengadaptasi kreasi martabak manis mereka dengan pilihan rasa yang lebih berwarna. Sayangnya, hal ini tidak bertahan terlalu lama. Baru pada awal 2010-an, tercetus ide untuk menggunakan produk olahan, seperti cokelat Toblerone dan selai cokelat-kacang Nutella, sebagai isian martabak.

Martabak Pecenongan 65A di Jakarta merupakan pelopor tren baru ini. Menurut pengakuan sang pemilik, ide tersebut tidak datang dari mereka, melainkan dari permintaan seorang pelanggan di kedainya. Datang sebagai pembeli biasa, pelanggan tersebut membawa sebungkus cokelat Toblerone dan meminta mereka untuk menjadikannya isian martabak yang ia pesan. Dari situlah pemilik Martabak Pecenongan 65A melihat peluang dan memasukkan Toblerone ke dalam menu martabak manis mereka.

Sekarang, penjaja martabak manis, yang menawarkan pilihan isian yang lebih variatif dibandingkan masa-masa awal saya mengenal kudapan ini, bertebaran hampir di setiap sudut kota. Bahkan, ada yang menawarkan ukuran mini, yang cukup untuk dikonsumsi satu orang. Ada juga yang martabak in dengan delapan rasa dalam satu adonan.

Adonan martabaknya pun makin beragam. Salah satu contohnya, martabak red velvet yang sekarang digandrungi banyak orang termasuk generasi millennial. Dengan sedikit rasa manis dan aroma yang khas, adonan berwarna merah ini langsung jadi buah bibir. Bagi seorang penggemar fanatik seperti saya, inovasi-inovasi ini menambah kadar cinta saya terhadap martabak manis.


A die-hard fan of authentic Indonesian delights who loves the idea of travelling to the cradle of those enticing local treats. Yet, you might often find this young lad busy with his guitar – be it alone in his room or, sometimes, on stage.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM
KNOW US BETTER