READING

6 Hal Unik di Balik Kekayaan Kuliner Bali

6 Hal Unik di Balik Kekayaan Kuliner Bali


Hidangan tradisional Bali tidak dapat dipisahkan dari tradisi dan kepercayaan masyarakat lokal

Budaya Bali tak pernah berhenti membuat saya terkagum-kagum, apalagi dengan penduduk lokalnya – mayoritas bergama Hindu – yang menjunjung tinggi unsur kepercayaan dan tradisi. Bagi kami di Good Indonesian Food, pulau ini semakin menarik karena dunia kulinernya yang sangat dipengaruhi oleh adat istiadat lokal – sebuah keunikan yang patut kami ulas di sini.

Para Lelaki Bali Harus Bisa Memasak
Coba tanyakan kepada para lelaki asli Bali soal pembuatan masakan tradisional lawar atau babi guling, dan mereka akan memberikan jawaban serinci mungkin yang dijamin akan membuat seorang koki kelas dunia seperti Gordon Ramsay terpana. Menurut Pak Ketut, supir sekaligus pemandu saya selama di Bali, merupakan kewajiban bagi kaum lelaki di pulau ini untuk memasak bersama-sama dalam acara-acara tertentu di desa mereka. Sementara itu, para perempuan bertugas untuk membuat kerajinan tangan sebagai persembahan. Jika tidak percaya, coba saja kunjungi YouTube dan tonton video berjudul “Bizarre Foods”. Anda dapat menyaksikan sang pemandu acara, Andrew Zimmers bahu-membahu dengan penduduk lokal Bali memasak lawar untuk Upacara Potong Gigi.

Makanan sebagai Persembahan
Pencinta kuliner Bondan Winarno pernah mengungkapkan dalam bukunya “100 Mak Nyus Bali” kalau masyarakat Pulau Dewata memandang makanan sebagai elemen penghubung antara manusia dan para dewa. Mereka menggunakan makanan sebagai komponen wajib untuk persembahan kepada para dewa-dewi. Dan ini konsisten mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, mereka biasa mengambil sesendok nasi dan menyajikannya kepada para dewa setiap pagi. Dalam beberapa momen istimewa yang melibatkan sesajen kuliner, seluruh masyarakat desa bahkan ikut berpartisipasi dan saling bahu-membahu untuk memasak hidangannya.

Koki Banjar
Sama halnya dengan restoran, setiap banjar atau desa di Bali memiliki kepala juru masak yang disebut be lawa. Sosok ini bertanggung jawab untuk memimpin ritual memasak bersama, termasuk di dalamnya menyiapkan daftar belanjaan, menentukan porsi makanan untuk para tamu, dan lain-lain. Seorang be lawa juga bisa menjadi koki tamu di desa lain.

Be Guling
Makanan tradisional Bali, be guling atau babi guling tentu terdengar sedikit asing bagi para wisatawan yang berkunjung, tapi keberadaannya sangat mudah ditemukan di pulau ini. Tahukah Anda kalau sajian ini awalnya dibuat hanya untuk ritual-ritual penting, seperti pernikahan dan pemakaman? Penduduk lokal menyajikan babinya secara utuh untuk hidangan ini, karena menurut kepercayaan, hewan yang digunakan dalam persembahan tidak boleh dipotong. Dari sekian banyak rumah makan yang menawarkan hidangan babi guling di Pulau Dewata, saya rekomendasikan Anda untuk mencoba Babi Guling Candra dan Babi Guling Dobiel.

Lawar
Lawar selalu menjadi sajian pertama yang dimasak dalam setiap upacara adat maupun perayaan di Bali. Biasa disajikan dengan nasi dan beberapa makanan lainnya, lawar terbuat dari daging cincang, sayuran, kelapa, dan sejumlah bumbu. Terdapat beberapa jenis lawar yang biasa ditemukan, yakni lawar tulen (memiliki warna merah yang dibuat dari darah), lawar putih, lawar kuning, lawar penyon, dan lawar hijau. Salah satu ritual Bali yang melibatkan seluruh laki-laki di suatu desa untuk bergotong-royong memasak lawar adalah Ngelawar. Bagi Anda yang ingin mencicipi hidangan lawar paling autentik di Bali dapat mampir ke Lawar Bali Kartika.

Penyu yang Sakral
Di Bali, sate bukan sekadar makanan yang populer, tetapi juga memegang peranan penting terhadap budaya masyarakat di pulau ini. Sebagai contoh, bahan-bahan untuk membuat sate lembat – yang terdiri dari daging babi, ayam, bebek, dan penyu – dipilih berdasarkan Tattwa Darsana atau Sila Sasana, sebuah kepercayaan dalam agama Hindu yang membutuhkan darah hewan yang hidup di darat, air, dan udara sebagai sesajen. Mengingat penyu merupakan salah satu hewan yang kini dilestarikan dan dilindungi, penggunaan dagingnya pun menjadi sesuatu yang langka. Untuk upacara keagamaan, sebuah surat yang ditandatangani oleh pemuka agama harus disertakan untuk mendapatkan izin memperoleh daging penyu.


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *