Asal-Usul Warung Tegal


Selain rumah makan Padang, Warung Tegal atau yang kerap disingkat “warteg” merupakan salah satu tempat makan yang menjadi pilihan banyak orang jika ingin makan murah dan dengan porsi yang mengenyangkan. Pilihan makannya sendiri cukup beragam untuk menampung selera para pembeli. Tersedia pula kerupuk dan berbagai jenis minuman. Namun, tahukah Anda tentang sejarah warteg?

Sesuai namanya, warteg memang berasal dari Tegal. Pada awalnya, warung makan ini dikelola oleh orang-orang dari Desa Sidapurna, Sidakaton, dan Krandon. Pengelolaannya bergantian setiap 3–4 bulan sekali dan umumnya masih berasal dari satu keluarga yang sama. Kebiasaan ini bahkan masih dipertahankan di kota-kota besar, seperti Jakarta atau Bandung. Hal ini dilakukan untuk menghindari rasa bosan yang kerap menyergap jika harus bertahan di satu tempat. Yang sedang tidak mendapat giliran bisa mengisi waktu dengan bertani.

Makanan yang disajikan umumnya bersifat sederhana dan cepat dimasak, seperti nasi goreng dan mi instan. Tersedia pula pisang goreng, kopi, teh, dan minuman ringan. Beberapa warung bahkan khusus menghidangkan makanan tertentu, seperti sate tegal, gulai, dan teh poci. Namun, di Jakarta, menu yang disajikan bisa dibilang menu komplit. Ayam goreng, ikan goreng, ikan balado, orek tempe, telur balado, sayur sawi, hingga aneka gorengan merupakan beberapa menu yang wajib ada. Beberapa warteg bahkan menambahkan menu soto ayam atau sayur sop.

Kapan pertama kali warteg berdiri di kota Jakarta? Tidak ada yang tahu pasti. Namun, beberapa kalangan percaya bahwa warteg sudah muncul sekitar tahun 1950-1960. Saat itu, pembangunan Jakarta menyedot perhatian orang-orang desa dan membuat mereka memutuskan untuk mengadu nasib ke kota untuk menjadi kuli bangunan. Kondisi ini dimanfaatkan para warga Tegal yang ada di ibu kota untuk menghadirkan makanan dengan harga yang terjangkau bagi kaum buruh tersebut.

Saat ini, salah satu warteg yang cukup terkenal di Jakarta adalah Kharisma Bahari. Pemiliknya bernama Sayudi yang memang berasal dari Tegal. Hanya dalam waktu empat tahun, ia berhasil mengembangkan wartegnya hingga memiliki 92 cabang yang tersebar di Jakarta dan Tangerang Selatan. Cita-citanya adalah menghapus citra warteg yang dinilai banyak kalangan jorok dan kotor. Untuk itu, ia membuat Kharisma Bahari menjadi warteg yang bersih dan nyaman.


RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *