READING

Bali: Nasi Pedas Ibu Andika

Bali: Nasi Pedas Ibu Andika


Dari semua menu yang saya pilih, hanya kacang panjang yang bebas rasa pedas, dan saya bahkan tidak menyentuh sambal di piring saya sama sekali.

Setelah menghabiskan beberapa hari yang berkesan di Lombok, petualangan kuliner saya pun berlanjut ke Pulau Bali. Tidak ingin membuang-buang waktu, setibanya di Bandara Internasional Ngurah Rai, pikiran saya langsung tertuju untuk mengunjungi Nasi Pedas Ibu Andika dalam perjalanan menuju hotel. Restoran ini sudah beroperasi sejak sekitar 1980-an dan telah mendapatkan berbagai ulasan positif karena hidangannya yang super pedas. Singkatnya, ini merupakan destinasi kuliner yang sempurna untuk memulai petualangan kuliner saya di Pulau Dewata.

Berlokasi tepat di seberang toko suvenir Bali terkenal, Joger yang terletak di Jalan Raya Kuta, restoran ini memiliki area parkir yang terbatas karena berada tepat di pinggir jalan protokol. Otomatis, pengunjung harus rela memarkir mobilnya sedikit jauh dari rumah makan.

Ketika tiba di sana, tempat ini sudah dipenuhi oleh para pelanggan dengan antrian yang cukup panjang di depan counter makanan. Sebelum memulai perjalanan, beberapa teman dan kerabat sudah mengingatkan saya akan kepedasan nasi pedas. Saya pun mengingat baik-baik wejangan ini ketika memilih menu. Saya bahkan berusaha menahan godaan untuk mengambil sambal, padahal saya termasuk pencinta pedas.

Walaupun semua makanan yang tersedia sangat menggugah selera, saya menguatkan diri dengan hanya memilih ayam goreng, perkedel jagung, kacang panjang, dan sedikit keripik kentang. Di titik ini, pertahanan diri saya pun luntur, dan akhirnya saya menuangkan sesendok sambal ke piring. “Apapun risikonya, sambal merupakan menu wajib,” kata saya dalam hati.

Selesai memilih makanan, saya pun mengambil tempat di sudut restoran yang kebetulan kosong. Dengan segelas es teh sebagai amunisi, mulailah saya menyantap menu pedas saya. Baru beberapa suap, keringat sudah mulai mengucur dari kening saya. Sebagai gambaran, di akhir sesi makan, sudah tiga gelas es teh manis yang habis saya tenggak. Dari semua menu yang saya pilih, hanya kacang panjang yang bebas rasa pedas, dan saya bahkan tidak menyentuh sambal di piring saya sama sekali. Pada akhirnya, saya menyerah untuk menghabiskan makanan saya. Satu hal yang saya pelajari dari kunjungan saya saat itu: nama nasi pedas di sini dipilih bukannya tanpa alasan.

Jl. Raya Kuta No. 120C
Kuta, Bali
Buka setiap hari selama 24 jam
Rp.35.000/US$2,50 per orang


A die-hard fan of authentic Indonesian delights who loves the idea of travelling to the cradle of those enticing local treats. Yet, you might often find this young lad busy with his guitar – be it alone in his room or, sometimes, on stage.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *