Bali: Warung Lawar Sapi Odah


” Melihat keragu-raguan di muka saya, Bu Odah menyodorkan sepotong darah goreng. Warnanya yang gelap pekat membuat saya ragu. Namun, saya mencoba untuk berlaku sopan dan mencoba satu potong.

Karena sebagian besar penduduk Bali beragama Hindu, makanan berbahan dasar daging sapi sangat jarang ada di Pulau Dewata ini. Oleh karena itu, menemukan lawar sapi (potongan daging sapi dicampur sayuran, kelapa, dan berbagai bumbu) sama seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Untungnya, ada Warung Lawar Sapi Odah yang berhasil memuaskan pencarian kami akan daging sapi.

Gerai makanan di daerah Sanur ini telah berdiri sejak lebih dari 40 tahun. Walaupun umurnya sudah tua, warung ini tidak sepopuler Warung Mak beng atau Warung Men Weti. Warung ini terletak di luar area pantai, yang membuat para pencinta kuliner harus mencarinya lebih teliti.

Setelah bertanya kepada beberapa orang di area Pantai Sanur, saya berhasil menemukan Warung Lawar Sapi Odah. Gerai ini dipenuhi pelanggan. Dalam usianya yang ke-80, Ibu Odah masih memegang pengoperasian warung ini dengan bantuan anak-anaknya. Saya senang melihatnya dan memutuskan untuk duduk di depan meja pelayanan.
Warung Lawar Odah menawarkan makanan paket yang terdiri atas lawar, tum (lawar kukus), dan sup. Tumnya memiliki rasa yang hampir sama dengan tum babi yang pernah saya coba. Namun, karena menggunakan daging sapi, teksturnya jadi lebih alot. Dicampur dengan bumbu ala Bali, tum ini memberikan rasa yang bervariasi.

Kemudian, karena menggunakan daging sapi, Anda akan menemukan jeroan goreng. Selera makan saya menurun ketika melihat darah goreng disajikan di atas meja. Melihat keragu-raguan di muka saya, Bu Odah menyodorkan sepotong darah goreng. Warnanya yang gelap pekat membuat saya ragu. Namun, saya mencoba untuk berlaku sopan dan mencoba satu potong. Untungnya, rasanya tidak semengintimidasi seperti warnanya. Teksturnya yang lembut memuaskan lidah saya. Juga, tidak ada aroma menusuk keluar dari makanan ini. Saya tidak bisa menghentikan keinginan untuk mengambil potongan lain.

Jl. Danau Buyan
Sanur, Bali
Buka setiap hari pukul 09.00-13.00 WITA
Rp.30.000/US$2,30 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *