READING

Bali: Warung Rujak Gelogor

Bali: Warung Rujak Gelogor


“Hidangan ini sangat tepat untuk membangunkan mereka yang sedang mengantuk.”

Pada dasarnya, nama dari sebuah makanan tidak menggambarkan rasanya. Fakta ini akhirnya saya pahami ketika dengan bodohnya berpikir kalau rujak kuah pindang, sesuai namanya, akan terasa amis dan aneh. Saya ragu ketika harus mengunjungi Warung Rujak Gelogor di Bali. Saya sangat berharap warung tersebut sudah tutup saat sampai ke sana.

Kenyataan berkata lain. Saya sampai ke sana kurang dari satu setengah jam sebelum warung tersebut tutup. Di warung Kadek Latri, generasi kedua pemilik toko, sedang sibuk meracik kuah rujak. “Wah, ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan,” batin saya dalam hati.

 

Perpaduan Buah Segar dan Kuah Ikan

Serombongan pelanggan masih memadati tempat yang didirikan pada 1966 ini. Saya mendapatkan kertas dan pulpen untuk menuliskan pesanan. Dipenuhi kecemasan yang sama ketika diajak ke dokter gigi saat masih kecil, dengan enggan saya menuliskan “rujak”. “Isi gula?” tanya salah satu karyawan dengan aksen Bali yang kental, yang saya respons dengan tatapan bingung. “Untuk pemula, saya campur dengan gula jawa yah,” kata dia, ”untuk meredam rasa bumbunya,” dia menekankan.

Kurang dari lima menit, rujak kuah pindang sudah tersaji di meja saya. Setelah awalnya ragu untuk mencobanya, saya agak kaget karena tidak menemukan bau amis yang saya takutkan. Rujak ini terdiri atas jambu air, mangga muda, bengkuang, dan belimbing. Saya memulainya dengan mengambil potongan mangga yang terbalut bumbu yang berair, dan menelan semuanya.

Bumbunya, yang terbuat dari campuran asam Jawa, sari ikan, dan cabai, memiliki rasa asam dan pedas yang menyengat lidah. Kesegaran rujak ini dilengkapi oleh rasa asam dari mangga muda. Sebagai penggemar berat makanan pedas, saya jatuh cinta seketika dengan rujak pindang. Ketika menyantapnya, saya serta merta berpikir bahwa hidangan ini sangat tepat untuk membangunkan mereka yang sedang mengantuk.

Saya tidak sanggup melupakan rasa rujak Gelogor. Apabila sebelumnya saya malas untuk menjejakan kaki di warung ini, yang terjadi malah sebaliknya. Sebelum meninggalkan Bali, saya menyempatkan diri untuk kembali ke Warung Rujak gelogor untuk merasakan cita rasa lezat rujak. Saya akhirnya belajar untuk tidak menghakimi sebuah makanan hanya dari namanya.

 

By Jessicha Valentina

Jl. Bukit Tunggal No. 27
Pamecutan, Denpasar, bali
Buka tiap hari, pukul 10.00–18.00 WITA
Rp10.000/US$0.80


Good Indonesian Food is a team of foodies working to preserve and promote Indonesian culinary.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *