Banda Aceh: Mie Ayah


Sebelum kunjungan kami ke Mie Ayah, kami cukup kecewa dengan kualitas mie aceh yang ditawarkan oleh berbagai rumah makan di Banda Aceh. Ironis, mengingat kota ini merupakan tempat kelahiran dari mie aceh itu sendiri.

Pemandu tur kami menyadari ketidakpuasan kami tersebut, dan sebagai upaya untuk membuat kunjungan kami tidak sepenuhnya sia-sia, maka dia pun menyarankan kami untuk mencoba Mie Ayah. Menurut argumentasinya, ini merupakan restoran yang kami cari-cari: telah berdiri selama 25 tahun, tidak memiliki cabang, dan masih dikelola oleh pemilik aslinya. Kedengarannya terlalu sempurna, dan malah membuat kami semakin ragu. Sampai akhirnya salah satu staf Bu Si Itiek Bireuen merekomendasikan tempat ini, dan meluncurlah kami ke sana.

Ketika kami tiba, tidak ada satu pun pengunjung yang terlihat. Di bagian depan, terdapat kotak aluminium yang berisi kepiting hidup dan es batu, serta penggorengan yang digunakan untuk memasak martabak aceh. Kami segera menuju salah satu kursi kosong yang tersedia di bagian depan dan memesan seporsi mie aceh basah kepiting dan martabak aceh. Sembari menunggu, salah satu pelayan datang menghampiri dan mengajak kami memilih kepiting.

Kami pun menjatuhkan pilihan kepada seekor kepiting dengan ukuran medium – yang kami pilih tidak hanya karena ukurannya, tapi juga karena kepitingnya masih hidup dan terlihat segar.

Disajikan dengan potongan daun bawang dan daging kepiting, makanan ini memberikan rasa yang seimbang antara gurih dan pedas. Daging kepitingnya yang segar dan sedikit manis menjadi pelengkap yang sempurna untuk kuahnya, dan membuat kami menyapu bersih hidangan ini sampai tak bersisa. Ternyata keputusan kami untuk mampir ke Mie Ayah sama sekali tidak mengecewakan.

Saat membayar di kasir, kami berkesempatan mengobrol dengan Nur Rahmi, yang merupakan anak dari pemilik restoran. Dengan sumringah, dia menerangkan sedikit soal sejarah tempat ini. “Ayah saya membuka rumah makan ini sekitar 28 tahun lalu. Ketika itu, satu porsinya hanya dijual seharga Rp.700,” jelasnya. Sang ayah, kemudian menurunkan tugas masak-memasak kepada kakak laki-laki Nur Rahmi, sementara Nur Rahmi sendiri ditugaskan di kasir.

Sebelum berpisah, kami tak dapat menahan diri untuk mengekspresikan kekecewaan kami terhadap sejumlah mie aceh yang kami cicipi sebelumnya, dan Nur Rahmi pun menjawab, “Di sini, kami hanya menggunakan bahan-bahan terbaik. Itu sebabnya kami meletakkan kotak berisi kepiting di bagian depan – agar pelanggan tahu bahwa daging kepiting di sini masih sangat segar.”
mie ayah

Jl. Simpang Lhong Raya
Banda Aceh
Telp: 0852 6035 5444
Buka setiap hari, pukul 11.00-01.00 WIB
Harga: Rp.60.000/US$4,50 per porsi


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *