Banda Aceh: Ridha Illahi


Pada 1511, bangsa Portugis menguasai Malaka, dan memaksa para pedagang Arab dan India mencari pelabuhan lain untuk bertransaksi. Mengingat Aceh memiliki lokasi yang strategis – di ujung utara Sumatra – mereka pun memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat perdagangan yang baru. Kebanyakan dari mereka lantas tinggal di Aceh dalam waktu yang lama dan hidup berdampingan dengan penduduk lokal. Ini kemudian tidak hanya menciptakan perpaduan budaya, tetapi juga memengaruhi hidangan lokal di area tersebut.

Kari kambing – atau dikenal dengan sie kameng oleh penduduk lokal – merupakan salah satu contoh hidangan tradisional Aceh yang merupakan hasil perpaduan kultur itu, dengan tekstur kuah dan pilihan daging yang menyerupai hidangan kari kambing khas India. Salah satu restoran yang dikenal menawarkan menu ini di Aceh adalah Ridha Illahi.

Berada di tengah kota, Ridha Illahi telah beroperasi puluhan tahun, dan telah mengalami dua kali relokasi. Sekarang, restoran ini berpusat di Jalan Teuku Cik Ditiro. Ketika sampai di sana, tempat ini sudah dipadati oleh pengunjung. Beruntung, saya dapat menemukan kursi kosong, dan segera setelah saya duduk, seorang pelayan langsung sigap menghampiri dan meletakkan tiga menu di atas meja: kari kambing, ayam goreng panas, dan sepiring kecil acar dengan potongan daging kambing. Mengingat saya sengaja mengunjungi tempat ini untuk mencicipi karinya, saya pun menyingkirkan menu ayam goreng ke pinggir meja.

Menggunakan tangan, saya mencampur kuah kari dengan nasi. Yang mengejutkan, tidak tercium aroma tajam khas daging kambing dari hidangan ini. Setelah menyeruput kuahnya, saya bisa menyimpulkan kalau kuah ini dibuat dari berbagai campuran rempah, diantaranya pala, kayu manis, kunyit, dan biji jintan. Rasanya benar-benar tidak mengecewakan. Saya kemudian melanjutkan mencicipi potongan daging kambingnya. Ditambah dengan cabai, bawang bombay, dan perasan lemon, ini merupakan contoh sajian sederhana dengan cita rasa sempurna.

Sambil mengunyah, saya tak bisa menahan diri untuk berpikir soal bagaimana penduduk lokal bisa melakukan diet di sini. Seperti yang kita ketahui, daging kambing bukanlah makanan yang baik untuk kesehatan. Setelah bertanya kepada supir sekaligus pemandu saya, barulah saya mengetahui kalau trik untuk menghilangkan kolesterol dari hidangan ini adalah dengan mengkonsumsi es timun. Menurutnya, minuman ini membantu mendinginkan kembali tubuh Anda. Setelah mendengar petuah bijaknya, saya pun langsung memesan segelas es timun. Karena bagaimanapun juga, seorang perempuan harus selalu menjaga tubuhnya, kan?

Jl. Teuku Cik Ditiro,
Baiturrahman, Banda Aceh
Buka setiap hari, pukul 11.00-16.00 WIB
Harga: Rp.50.000/US$3,70 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *