READING

Banda Aceh: RM Aditya Jaya

Banda Aceh: RM Aditya Jaya

Sebagai seorang perempuan, nama Ayam Pramugari terdengar sedikit sexist di telinga saya. Tapi, ketika dihadapkan dengan rasanya yang luar biasa enak, perihal namanya yang kurang berkenan itu pun langsung terlupakan.
Alkisah, namanya berasal dari bentuk potongannya yang panjang – dari bagian paha atas ke bawah – dan membuatnya mirip dengan kaki pramugari. Hal inilah yang kemudian menginspirasi masyarakat Aceh untuk menyebutnya sebagai Ayam Pramugari.

Saya baru saja tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, dan tak lama setelah saya sampai di dalam mobil, supir sekaligus pemandu saya langsung merekomendasikan hidangan andalan RM Aditya Jaya ini – kebetulan dia sudah tahu soal misi kuliner saya di Aceh sebelumnya. Dengan nama seperti itu, siapa juga yang tidak dibuat penasaran? Karena lokasinya dekat dengan bandara, saya pun memutuskan untuk mampir, sebelum melanjutkan perjalanan saya ke pusat kota.

Saat itu pukul 10 pagi ketika saya tiba, dan rumah makan ini masih sepi pengunjung. Saya memesan dua hidangan khasnya – Ayam Pramugari dan kari kambing – dan mulai mengobrol dengan pemilik restoran, Sofyan, sembari menunggu pesanan saya siap. Dari bincang-bincang singkat tersebut, saya pun mengetahui kalau rumah makan ini mulai beroperasi pada 1999 – sebelum tragedi tsunami Aceh – dan Sofyan sendiri masih aktif terlibat dalam kegiatan dapur restoran untuk menjaga kualitas hidangan-hidangannya.

rm aditya jaya, indonesian foodrm aditya jaya, indonesian food

Segera setelah pesanan saya tiba di meja, Sofyan meminta saya untuk langsung menyantapnya karena hidangan ini paling baik dikonsumsi saat masih panas. Sekilas, Ayam Pramugari terlihat mirip dengan ayam tangkap – sama-sama disajikan dengan daun pandan dan salam koja di bagian atas. Perbedaannya hanya terlihat dari bentuknya yang panjang.

Dari segi rasa, Ayam Pramugari terasa sama lezatnya dengan ayam tangkap, lengkap dengan aroma dan cita rasa khas makanan Aceh yang unik. Kari kambingnya juga sama sekali tidak mengecewakan, dengan kuahnya yang kental, yang mengingatkan saya akan hidangan kari india. Dan ketika saya mencampurnya dengan nasi, sensasi gurih pun langsung memanjakan lidah dan perut saya. Ini merupakan pemberhentian pertama saya di Aceh, dan kesan pertama yang saya dapatkan sangatlah memuaskan – membuat saya makin bersemangat untuk menggali “kejutan-kejutan” kuliner lain di kota ini.

Jl. Blang Bintang Lama,
Banda Aceh
Buka setiap hari, pukul 10.00-18.00 WIB
Harga: Rp.25.000/US$1,90 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *