Tangerang: Bakmi Tjeng Hok


Ketika mencicipi bakmi babinya, minya dimasak al dente, jika boleh meminjam istilah kuliner Italia.

Bagi sejumlah penduduk Tangerang, penjual bakmi Tjeng Hok bisa jadi lebih populer dibanding wali kotanya. Tepat kapan laki-laki berusia 83 tahun ini memulai bisnis bakmi babi rumahannya, tak ada yang tahu. Begitu pula dengan Kim Mey, anak keempat Tjeng Hok yang sekarang mengelola lapaknya. “Saya lahir pada 1962 dan saat itu dia sudah menjual bakmi untuk menyambung hidup,” katanya.

Sebenarnya, nenek Kim Mey—ibu Tjeng Hok—yang pertama kali memberi ide untuk menjual bakmi babi. Sebagai anak yang baik dan penurut, Tjeng Hok mengikuti saran ibunya dan memulai usahanya menggunakan pikulan. Lalu, saat bisnis bakminya mulai berkembang, dia mengganti pikulannya dengan gerobak berwarna hijau supaya pergerakannya lebih mudah. Sekarang, kamu bisa menemukan gerobak itu diparkir di depan toko sebagai pengingat sejarah.

Bakmi Tjeng Hok adalah satu dari segelintir tempat makan di Tangerang yang membuat mi sendiri. Menurut Kim Mey, Tjeng Hok biasa melakukan semuanya sendiri, termasuk memukul dan membanting adonannya. “Orang-orang mengira dia adalah seorang ahli kung fu karena badannya sangat fit. Padahal, dia mendapatkan badan seperti itu dari membuat mi,” katanya sambil tertawa. Metode inilah yang membuat kualitas bakminya spesial.

Ketika mencicipi bakmi babinya, saya terkesiap dengan tekstur minya, jika boleh meminjam istilah kuliner Italia, yang dimasak al dente. Mi tersebut dihidangkan dengan komposisi lembut; kenyal, tetapi tak terlalu kering atau matang. Bertabur cacahan daging babi dan choy sum (sayuran hijau yang biasa digunakan dalam masakan Tionghoa) yang banyak, rasa gurihnya memuaskan lidah saya. Sebagai peneman, saya memesan baso tahu rumahan Tjeng Hok, yang dihidangkan dengan sup panas.

Meskipun Tjeng Hok sudah lama pensiun, kerja kerasnya berbuah manis. Pada waktu saya berkunjung, saya bertemu dengan seorang pelanggan setia Bakmi Tjeng Hok yang sudah berusia 65 tahun, yang membawa anak-anak dan cucu-cucunya untuk menikmati bakmi di sana. “Saya ingat pernah merayakan kelulusan sekolah menengah pertama saya di sini, dan tak ada satu pun yang berubah,” katanya sambil bernostalgia.

Jadi, jika Anda mencari tempat makan di Tangerang yang kaya akan nilai sejarah dan nostalgia, Bakmi Tjeng Hok bisa menjadi pilihan.

jabodetabek-heritage-bakmi tjeng hok

Jl. Raya Otista No. 17,
Tangerang, Banten
T.021-552 3328
Buka setiap hari dari pukul 12.00-21.00 WIB
Rp20.000-30.000/US$1,40-2,20 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.