READING

Tangerang: Bubur Ayam Keluarga Pak Beng

Tangerang: Bubur Ayam Keluarga Pak Beng


“Buburnya memiliki tekstur yang tebal, dan setelah satu suap, ternyata jenis nasi yang digunakan adalah nasi utuh yang menjadi lunak berkat kaldu ayamnya.

Beberapa tahun belakangan ini, Tangerang telah menjadi lebih dari sekadar kota satelit bagi Jakarta. Area hunian dan pusat perbelanjaan mewah telah dibangun, menjadikannya area pinggir kota yang hidup, tempat banyak penghuni Jakarta memilih untuk pindah agar terbebas dari kekacauan ibu kota. Kemajuan ini mendorong munculnya berbagai tempat makan baru—masing-masing dengan spesialisasinya sendiri yang siap memanjakan para pencinta makanan.

Meski demikian, tempat-tempat makan baru ini tidak menggambarkan kekayaan kuliner yang dimiliki kota tersebut dengan sempurna. Lanskap kuliner Tangerang yang sesungguhnya datang dari komunitas Tionghoa di dalam kota, yang dikenal dengan sebutan “Cina Benteng”. Mereka telah membantu pembentukan kuliner lokal dengan pengetahuannya dan kreasi-kreasinya yang lezat. Salah satu contoh yang baik adalah Bubur Ayam Keluarga Pak Beng.

Didirikan 42 tahun silam oleh Beng Sui, tempat makan ini menyajikan bubur ayam yang dibuat dengan metode masak Tionghoa, tetapi tetap mengemban identitasnya sebagai bagian dari kuliner Nusantara. Pak Beng menyajikan hidangannya a la minute dan menjaga kehalalannya dengan menghindari penggunaan daging babi.

Sesampainya di toko, saya melihat tiga panci berbeda ukuran. Yang paling besar mewadahi buburnya, yang secara bertahap dipindahkan Pak Beng ke panci berukuran medium. Ketika pelanggan memesan semangkuk, dia akan memanaskan ulang buburnya di dalam panci yang paling kecil.

Buburnya memiliki tekstur yang tebal, dan setelah satu suap, ternyata jenis nasi yang digunakan adalah nasi utuh yang menjadi lunak berkat kaldu ayamnya. Bagian atasnya bertabur daging ayam cincang, selada, char kway (donat Tionghoa), dan tongcai (bayam air Tionghoa yang diawetkan). Kombinasi ini memuat campuran rasa asam, pedas lada, dan asin. Saya meminta Pak Beng untuk menambahkan telur mentah, yang membuat teksturnya menjadi lebih lembut.

Ketika saya lahap bubur ayamnya, pikiran saya melayang melintasi waktu, ke masa-masa saat nenek saya suka membuat bubur ayam dari nasi sisa, dan bagaimana saya selalu menikmatinya. Ini adalah hidangan yang tak hanya membawa kebahagiaan ke lidah saya, tetapi juga ke hati saya.

Jl. Ki Samaun, Tangerang
Banten, Jawa Barat
Buka setiap hari, pukul 14.00–24.00 WIB
Rp13.000/US$0,90 untuk porsi kecil, dan Rp15.000/US$1,10 untuk porsi besar


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *