Jakarta: Restoran Trio


Setelah melihat-lihat, saya tercengang karena ada lebih dari 300 jenis makanan, termasuk makanan Kanton, Indonesia, dan Belanda.

Ketika obrolan tentang tempat makan enak di Jakarta tercetus, pasti mengarah ke restoran cina. Mungkin banyak yang pernah mendengar tentang Restoran Trio, salah satu restoran di Jakarta yang legendaris. Restoran ini didirikan pada 1947, dua tahun setelah kemerdekaan RI! Restoran Trio berada di wilayah Gondangdia dan mudah ditemukan. Restoran ini memiliki warna hijau pada gedungnya dan terdapat papan petunjuk di bagian atapnya.

Saya mengunjungi Restoran Trio tak lama sebelum masuk waktu istirahat. Disambut sapaan hangat dari staf tempat ini, saya memilih tempat duduk dan menerima daftar menu. Setelah melihat-lihat, saya tercengang karena ada lebih dari 300 jenis makanan, termasuk makanan Kanton, Indonesia, dan Belanda, sebuah kombinasi yang tidak biasa. Maka wajar bila Restoran Trio termasuk dalam daftar tempat makan enak di Jakarta banyak orang. Di sudut dekat kasir, makanan khas restoran ini tertulis di dinding dengan gaya bahasa Indonesia lampau. Saya merasa seperti kembali ke masa lalu. Saya menjatuhkan pilihan pada lumpia udang trio dan ayam nanking. Pramusaji bertanya apakah saya mau menambahkan acar untuk melengkapi makanan saya. Saya mengangguk dengan semangat untuk menunjukkan ekspresi setuju.

Sebagai keturunan Tionghoa, saya merasa kemahiran memasak restoran cina ditentukan oleh acarnya.  Restoran Trio membuktikan bahwa mereka ahli di bidangnya. Di sini, makanan pembuka disajikan di atas sebuah piring timah. Acar renyahnya memiliki paduan rasa yang pas antara manis dan asam, sungguh menyegarkan. Tak lama, pesanan saya datang. Lumpia udang trio berisi potongan daging udang yang diselimuti kulit tahu. Rasanya lezat. Bagian luarnya terasa renyah, sementara isinya terasa nikmat. Selain itu, ayam nankingnya berhasil memuaskan saya. Potongan ayamnya dilapisi udang goreng cacah, serta saus asam manisnya—yang terbuat dari campuran mentega dan saus Worcestershire—menerbitkan rasa lapar saya.

Dari tempat duduk, saya bisa melihat pemilik restoran ini duduk di bagian kasir sembari menghitung pendapatannya hari itu. Saya menerka umurnya sekitar 70 tahunan, tetapi masih terlihat kuat dan sehat. Setelah membayar makanan, saya memperkenalkan diri dan mengajaknya berbincang.

Namanya Effendy. Dia adalah anak kedua dari almarhum Lam Khay Tjoe, salah satu penggagas Restoran Trio. “Ayah saya membuka restoran ini bersama Tan Kim Po dan Tan Lung,” ujarnya. Dia mengambil alih restoran tersebut pada 1963 dan pada masa kepemimpinannya, dia telah bertemu banyak orang terkenal, seperti Ali Sadikin, Bagong Kussudiardja, bahkan D.N. Aidit, pemimpin Partai Komunis Indonesia. “Generasi yang lebih muda, seperti Butet Kartaredjasa, tahu tentang restoran ini dari orangtuanya,” ungkapnya. Kemudian, dia menunjukkan koleksi kartu nama yang dia dapatkan dari para pelanggannya sejak bertahun-tahun lalu hingga kini.

Ketika ditanya tentang kelanjutan Restoran Trio, Effendy menggelengkan kepala dan tersenyum. “Anak perempuan saya setuju untuk meneruskan restoran ini. Dia tidak bisa memasak, jadi kami sedang melatihnya.” Sebagai orang yang sudah menjalankan bisnis dalam waktu yang sangat lama, saya penasaran apa yang membuatnya bisa mempertahankan kesuksesannya mengelola restoran di Jakarta. “Untuk menjadi pemilik restoran, seseorang harus tahu seni memasak. Anda tidak bisa hanya mengandalkan koki; Andalah yang harus tahu ukuran tiap bahan untuk memastikan kualitas hidangan Anda,” katanya.

jabodetabek-heritage-restoran trio2

Jl. Rp. Soeroso No. 29A, Cikini
Jakarta Pusat
Telp: (021) 31936295
Buka tiap hari, pukul 10.00–14.00 dan 17.00–22.00 WIB
Rp100.000 per orang/US$8


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *