Jakarta: Soto Mie Wahid Hasyim


Cukup satu sendok penuh bagi saya untuk merasa kecewa—rasa kuahnya terlalu manis untuk lidah saya. Bahkan, setelah mencelupkan paru ke dalam kuah soto pun tidak mengubah opini saya terhadap makanan tersebut.

Sebelum kita mulai, saya hanya ingin mengungkapkan bahwa pengalaman pribadi saya di Soto Mie Wahid Hasyim tidak menyenangkan. Sejujurnya, ini bukan selera saya, tetapi demi profesionalitas, saya akan menceritakan kejadiannya kepada Anda.

Pada 1969, Haji Acef mendirikan Soto Mie Wahid Hasyim dan memilih tempat di bawah salah satu pohon terbesar di Jalan Wahid Hasyim sebagai lokasinya. Seiring berjalannya waktu, saudara iparnya Pak Nasurallah mengambil alih toko tersebut dan sekarang menjalankan bisnisnya. Saya datang dengan seorang teman, dan dengan ini sebagai pemberhentian terakhir, kami sudah sangat kenyang ketika sampai di sana. Salah satu staf Pak Nasurallah dengan ramah menawarkan soto mi, yang kami setujui dan putuskan untuk dibagi berdua.

Sembari menunggu soto mi kami, saya melihat sekantong paru goreng di ujung meja kami. Karena itu adalah kudapan favorit saya sepanjang masa, dengan cepat saya mengambil satu untuk dimakan bersama soto. Tak lama sesudah itu, pesanan kami tiba. Soto itu terdiri atas mi kuning yang terendam dalam kuah bening, dihiasi daging sapi, emping, dan perkedel. Cukup satu sendok penuh bagi saya untuk merasa kecewa—rasa kuahnya terlalu manis untuk lidah saya. Bahkan, setelah mencelupkan paru ke dalam kuah soto pun tidak mengubah opini saya terhadap makanan tersebut.
Namun, reaksi teman saya sama sekali berbeda. Dia berpendapat bahwa rasanya lezat, dan dia mengatakan bahwa rasanya jauh lebih enak dibanding bakso yang juga kami santap di hari itu, yang terlalu asin baginya.

Kalau Anda sudah membaca beberapa artikel saya sebelumnya, saya memang cenderung lebih suka makanan yang asin dan pedas. Sebaliknya, teman baik saya ini lebih suka yang manis—mungkin karena dia keturunan Jawa.

Dengan dua opini berbeda, saya harus berpikir ulang tentang penulisan ulasan ini. Namun, saya memiliki tanggung jawab untuk mengutarakan pendapat yang objektif saat memberikan pujian. Jadi, alih-alih diubah total, saya ingin mendedikasikan ulasan ini kepada Pak Nas, yang soto minya memberi saya perspektif baru dalam memberikan ulasan terhadap makanan. Ini menjadi pengingat bahwa saya tidak boleh mendiskualifikasi sebuah tempat makan hanya karena saya tidak menyukai rasa makanannya. Apalagi Indonesia memiliki lebih dari 300 budaya sehingga saya benar-benar harus lebih sensitif dan belajar untuk mengapresiasi perbedaan, termasuk beraneka ragam penganan mereka.

Jl. KH Wahid Hasyim
Jakarta Pusat
Telp: 0813 8770 2163
Buka setiap hari, pukul 10.00 – 20.00 WIB
Rp18.000/US$1,30 per porsi


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *