Jakarta: AW Imanuel


Dengan adanya tiga restoran bernama Andy Watung di Jalan Ahmad Yani, saya dan Junior Managing Editor Good Indonesian Food cukup kebingungan mencari AW Immanuel yang asli di lokasi tersebut. Dua restoran pertama terletak di pinggir jalan dengan plang nama besar di bagian depan. Putus asa, kami pun menelepon seorang teman yang berasal dari Manado dan merupakan pelanggan tetap restoran yang kami maksud. Dengan arahannya, kami berhasil menemukan tempat tersebut yang rupanya tersembunyi di jalan kecil di belakang halte Rawasari.

Ketika memasuki rumah makan ini, saya langsung mendengar celotehan dalam bahasa Manado – tampaknya semua orang di sini berasal dari ibu kota Sulawesi Utara tersebut. Salah satu pemilik tengah memotong-motong serai sambil diiringi lagu gospel – sesuatu yang tidak pernah saya saksikan sebelumnya di restoran ibu kota.

aw immanuelaw immanuel

Saya mengikuti kerumunan dan mengantri untuk memesan makanan. Sederetan hidangan Manado terlihat berjejer dari balik display. Kami pun memesan babi rica, cakalang suwir, tumis bunga pepaya, dan ayam isi dibulu. Sembari memesan, kami mendengar seorang pelanggan menanyakan menu RW yang merupakan kependekan dari rintek wuuk, atau daging anjing. Meskipun terkejut, saya cukup penasaran dengan rasa sajian ini. Akhirnya, saya pun ikut memesan setengah porsi menu tersebut untuk memuaskan sisi petualang saya.

Saya menyendok sedikit porsi RW bersama dengan nasi ketika pelayan meletakkan hidangan ini di atas meja. Saat mengunyah dagingnya yang kering, saya langsung memutuskan untuk tidak pernah memakannya lagi. Bukan karena daging anjing membuat saya jijik, tapi lebih karena rasa hidangan ini yang asin dan pedas yang kurang sesuai dengan selera saya. Meski demikian, saya masih sanggup menghabiskannya dengan bantuan sambal dabu-dabu.

Selanjutnya giliran cakalang suwir yang saya cicipi. Rasanya cukup memuaskan, dengan dominasi rasa pedas dan sedikit asin. Sementara itu, ayam isi dibulu memiliki cita rasa gurih dan pedas yang menjadi ciri khas masakan Manado. Tumis bunga pepaya menjadi sajian pendamping yang sempurna kala itu, dengan sedikit rasa pahit yang mampu menetralisir rasa gurih-pedas yang mendominasi hidangan lainnya. Meski demikian, favorit saya jatuh kepada menu babi rica, dengan potongan daging babi yang lembut dan cita rasa manis-gurih yang sempurna.

aw immanuel

Saya berkesempatan mengobrol dengan pemilik restoran, Alce Worang yang mewarisi rumah makan ini dari saudara kakek-neneknya. Didirikan pada 1960-an oleh Lance Ramas dengan nama Andy Watung, restoran ini mulai menggunakan titel AW Immanuel setelah sang suami mangkat.

Sebagai hadiah perpisahan, Alce meminta kami untuk mencicipi nasi jaha – penganan khas Manado yang terbuat dari nasi dan ketan. Bagi Anda yang belum pernah mencicipi masakan Manado, AW Immanuel mungkin menjadi pilihan yang cukup ekstrem. Namun, bagi penggemar sejati masakan ini, restoran tersebut dijamin akan memuaskan perut dan lidah Anda.

Jl. A. Yani No. 37-38
Rawasari, Jakarta Pusat,
DKI Jakarta
T: 021 425 8155
Buka setiap hari, pukul 08.00-21.00 WIB
Rp.50.000/US$3,80 per orang


Monica Livia is the youngest contributing writer in Good Indonesian Food. Born and bred under the watchful eyes of her grandmother, who happens to be a baker, she has been falling in love with food since she was a wee kid.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *