Jakarta: Bakoel Koffie


Wisata kuliner di Cikini sudah terkenal sejak dulu. Misalnya, warung bakmi, masakan Cina, hingga kedai-kedai kopi tua yang menyajikan kopi serta makanan nikmat dengan nuansa Jakarta tempo dulu. Salah satunya adalah kafe bernama Bakoel Koffie yang berdiri tepat di seberang Menteng Huis.

Didominasi warna cokelat dan berbagai alat rumah tangga klasik, suasana Bakoel Koffie memang terasa jadul. Di dekat kasir, terpajang sebuah rak berisi biji kopi yang mereka jual. Jika ingin mencicipi kopi dari kafe yang merupakan coffee roaster pertama di Jawa, Anda bisa membeli satu pouch kecil. Aneka kue pun terpajang di display, mulai dari kue tiramisu, cheese cake, panada tuna, hingga jajanan pasar, seperti klepon, lemper, ongol-ongol, dan masih banyak lagi.

Sebuah brosur yang ditumpuk menarik mata saya. “Silakan ambil” begitu tulisan papan di atasnya. Ternyata, brosur tersebut berisi sejarah Bakoel Koffie yang sudah berdiri sejak tahun 1878 dengan nama Tek Sun Ho. Didirikan oleh Liauw Tek Siong, lokasinya dulu terletak di bagian timur Kali Ciliwung (disebut Molenvliet Canal pada zaman Hindia Belanda) yang menjadi jalur transportasi pengiriman kayu dan bahan-bahan makanan dari utara ke selatan.

bakoel koffie

Jika awalnya hanya menjual kopi sebagai minuman, pada 1968, Tek Sun Ho mulai menjual biji kopi hasil olahan mereka. Logo wanita pembawa bakul pun diperkenalkan sebagai tanda bahwa biji kopi mereka kini dapat dinikmati siapa saja. Perubahan ini sekaligus dalam rangka merayakan 60 tahun berdirinya Tek Sun Ho. Kini, sejak 2001, generasi keempat dari Liauw Tek Siong, yaitu Hendra dan Syenny Widjaja, meneruskan usaha keluarga dan mulai membuat kedai kopi dengan nama Bakoel Koffie yang dikenal hingga sekarang.

Tidak hanya menyajikan menu kopi dan makanan kecil, Bakoel Koffie juga memiliki beberapa menu Nusantara yang tampak menarik untuk dicoba. Ada pilihan soto, nasi goreng, tape bakar, singkong mbledug, dan masih banyak lagi. Sambil membolak-balik menu, pilihan saya jatuh kepada sebuah makanan bernama Mie Ongklok Wonosobo. Namanya unik dan menggelitik untuk dicoba. Akhirnya, saya putuskan untuk memesan satu porsi sebagai menu makan siang.

Saat pesanan datang, kesan pertama saya melihat mi yang terhidang adalah tampilannya yang mirip lo-mie karena kuahnya berwarna kecokelatan dan kental. Dengan tekstur yang tebal, mi di sini lebih mirip spageti daripada mi ayam. Kuahnya terasa manis-gurih. Sebagai topping, terdapat potongan tempe dan daging ayam. Perpaduan yang unik, tapi enak saat dipadu. Tidak lupa di atasnya diberi taburan emping sebagai teman makan.

Anda pun dapat membaca artikel ini di The Jakarta Post: Lunch at Oldest Coffee Roaster in Java

Jl. Cikini Raya No.25, RT.16/RW.1
Cikini, Menteng,
T: (021) 31936608
Buka setiap hari, pukul 09.00-23.30 WIB
Rp75.000/US$5,6 per orang


RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *