READING

Jakarta: Martabak Kari H. Abdoel Razak

Jakarta: Martabak Kari H. Abdoel Razak


Martabak telur umumnya dimakan dengan kuah cuka encer berwarna gelap yang dicampur dengan potongan timun dan cabe rawit. Namun, saat saya mendatangi salah satu penjual martabak yang terletak di daerah Cideng, tepatnya di Jalan Biak, ini, saya menemukan variasi martabak telur yang agak berbeda dari biasanya.

Martabak Kari H. Abdoel Razak adalah tempat yang saya singgahi sore itu. Buka mulai pukul 11.00, sengaja saya datang lewat jam makan siang agar terhindar dari antrean panjang atau warung yang terlalu penuh sehingga tidak terlalu nyaman. Lokasinya tepat di seberang Nite & Day Hotel Roxy. Tempatnya agak tersembunyi, tetapi di bagian depannya Anda bisa langsung melihat dapur dengan kotak-kotak pembungkus martabak serta telur-telur bebek yang tersusun rapi. Karena siang itu hanya ada saya dan dua pengunjung lain, pelayan warung tampak sedang bersantai sebelum malam menjelang dan suasana bertambah ramai.

Warung ini sudah berdiri sekitar 34 tahun atau telah ada sejak 1983. Awalnya, hanya sebuah tenda yang berdiri tepat di seberang bangunan yang sekarang. Karena ramai, akhirnya warung menempati bangunan permanen sejak 5 tahun yang lalu. Dari keterangan salah seorang pegawai, Martabak Kari H. Abdoel Razak pernah membuka cabang di Kelapa Gading dan Bintaro, tetapi cabang-cabang tersebut akhirnya tutup dan mereka lebih fokus mengembangkan kedai yang ada di Jalan Biak ini.

martabak kari h abdoel razak martabak kari h abdoel razak

Menunya sendiri tidak terlalu banyak, tetapi semuanya tampak terlihat enak. Saya memutuskan untuk memesan martabak telur kuah kari dan mie celor Palembang. Mie celor sendiri kabarnya merupakan menu andalan tempat ini sehingga saya penasaran mencobanya. Pilihan saya tepat untuk datang di jam 14.30 sore karena pesanan saya segera datang tanpa harus menunggu lama. Sepiring martabak telur kuah kari datang terlebih dulu, disusul mie celor yang panas mengepul.

Tampilan martabak telur kuah kari memang menyerupai martabak telur gerobak pinggir jalan yang sering saya beli. Namun, tidak ada daun bawang ataupun daging cincang. Hanya telur. Rasanya agak hambar, tetapi tunggu dulu, karena kemudian datang semangkuk kuah kari panas yang berbau harum. Saya pun segera mencelupkan martabak ke dalam kuah kental tersebut. Barulah rasa martabak yang hambar menjadi gurih dan sedap. Kuah karinya tidak terlalu pekat dan berwarna kekuningan dengan cacahan kentang, mengingatkan saya dengan kari India, tetapi dengan rempah-rempah yang tidak terlalu banyak. Selanjutnya, yang saya cicip adalah mie celor. Isinya hanya mie, tauge, dan potongan telur rebus disiram dengan santan yang sudah dicampur dengan kaldu udang. Rasanya di lidah saya agak unik karena gurih dengan sentuhan rasa udang. Bagi yang suka pedas, jangan lupa meminta tambahan sambal.

Oh ya, mengingat harganya yang cukup mahal, ada baiknya Anda bertanya dulu sebelum memesan. Jangan sampai meski perut kenyang, tapi Anda keluar dengan kesal karena bujetmakan melebihi yang sudah Anda anggarkan.

Anda juga dapat membaca artikel ini di The Jakarta Post: A unique take on ‘martabak telur’ in Central Jakarta

Jl. Biak 29 C, Roxy, Jakarta
No. Telp: 081880133
Buka Senin-Minggu, pukul 11.00–00.00 WIB
Rp70.000/US$5,10 per orang


RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *