READING

Lombok: Nasi Balap Puyung Inaq Esun

Lombok: Nasi Balap Puyung Inaq Esun


Rasa pedas yang awalnya terkesan malu-malu pun perlahan berubah menjadi sensasi terbakar di mulut yang membuat saya menghabiskan dua gelas es teh manis.”

Saat berada di Lombok, saya cukup beruntung dapat menikmati kelezatan hidangan Nasi Balap Puyung Inaq Esun, sebuah restoran yang khusus menyajikan nasi balap – salah satu makanan tradisional Suku Sasak yang merupakan penduduk asli Lombok. Rumah makan ini didirikan oleh almarhum Inaq Esun, dan kini dijalankan oleh keturunannya.

Walaupun memiliki beberapa cabang di Mataram – daerah tempat saya tinggal selama di Lombok – saya memutuskan untuk mengunjungi desa Puyung demi merasakan langsung pengalaman menyantap nasi balap ini di restoran pertamanya. Perjalanan saya ke sana menghabiskan waktu sekitar 40 menit dari pusat Kota Mataram. Ini termasuk cepat, karena menurut sang supir, perjalanan bahkan bisa memakan waktu hingga satu jam jika lalu lintas sedang tidak bersahabat.

Hidangan nasi balap puyung terdiri dari nasi, daging ayam suwir, plecing ayam, ampela dan hati goreng, buncis, dan kacang kedelai. Dari suapan pertama saya, rasa pedasnya terasa cukup menggelitik. Tapi, tunggu beberapa saat, dan rasa pedas yang awalnya terkesan malu-malu pun perlahan berubah menjadi sensasi terbakar di mulut yang membuat saya menghabiskan dua gelas es teh manis. Bahkan supir saya, yang merupakan penduduk asli Lombok dan sudah terbiasa dengan makanan pedas, terlihat berjuang menghabiskan nasi balapnya sambil sesekali menyeka keringat di wajah.
Baru sepulang dari restoran, dia mengatakan kalau sajian nasi balap puyung tidak hanya terkenal karena rasanya yang kaya, tapi juga karena kepedasannya. Dalam hati, saya pun bertekad untuk mengingat informasi ini sebelum memutuskan untuk mencoba nasi balap lain.

Jl. Raya Puyung, Lombok Pusat
Nusa Tenggara Barat
Buka setiap hari, 08.00-23.00 WITA
Rp.20.000/US$1,40 per orang


A die-hard fan of authentic Indonesian delights who loves the idea of travelling to the cradle of those enticing local treats. Yet, you might often find this young lad busy with his guitar – be it alone in his room or, sometimes, on stage.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *