Lombok: Rujak Kopang


Saya bisa mencium aroma ikan, yang setelah ditelisik lebih lanjut, berasal dari geranggang dan terasi. Awalnya, aromanya terasa menusuk, tetapi akhirnya saya terbiasa setelah beberapa kali gigitan.

Salah satu keuntungan dari pekerjaan saya adalah saya bisa bepergian keliling Nusantara dan mengeksplorasi pemandangan, suasana, dan tentunya kulinernya. Salah satu hidangan tradisional yang baru-baru ini saya coba saat berpelesir ke Lombok adalah rujak kopang—hidangan yang membuat orang paham kalau geografi memiliki peran penting dalam kuliner tradisional sebuah daerah.

Sebelum saya memulai perjalanan, saya selalu berasumsi kalau rujak hanya berupa potongan buah tropis yang disajikan dengan bumbu kacang. Ternyata saya salah, ketika menemukan bahwa rujak kopang cukup berbeda dengan saudaranya. Sejujurnya, saya sama sekali tidak pernah mendengar tentang rujak kopang sampai saya mendarat di Lombok. Pemandu wisata saya—yang mengetahui bahwa misi saya ke sini adalah untuk mencicipi makanan lokal—mempromosikan rujak kopang dengan bersemangat. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Kopang, dia meyakinkan saya bahwa tidak akan menyesal mencoba jenis rujak istimewa yang satu ini.

Saat mengunjungi tempat penjualan rujak kopang pertama kali, saya tidak mendapatkan hasil. Tempat tersebut sudah tutup saat kami sampai di sana. Jadi, saat saya masih punya waktu beberapa jam sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya meminta kepada pemandu wisata saya mengantarkan saya ke penjual rujak kopang yang ada di depan SMPN 1 Kopang. Kali ini, dewi keberuntungan menyertai saya. Sang penjual, Ibu Sri Wahyuni, ada di lapak bambu tersebut, melayani dua pembeli yang berbagi sepiring rujak. Tanpa pikir panjang, saya memesan dua jenis rujak kopang yang ditawarkan, orisinal dan manis.

Ibu Sri Wahyuni merupakan generasi kedua di keluarganya yang menjual rujak kopang. Dia telah berjualan lebih dari 30 tahun. Ketika selesai menyiapkan pesanan, dia menyerahkan sepiring rujak kepada saya. Saya melihat komposisi berwarna hijau yang aneh. Ibu Sri menjelaskan bahwa itu adalah geranggang atau rumput laut rebus. Bumbu orisinal rujak kopang menggunakan terasi, gula, dan cabai. Campuran nanas, mangga, dan jambu air membuatnya menjadi hidangan yang menyegarkan, apalagi jika disantap dengan bumbu pedasnya. Saya bisa mencium aroma ikan, yang setelah ditelisik lebih lanjut, berasal dari geranggang dan terasi. Awalnya, aromanya terasa menusuk, tetapi akhirnya saya terbiasa setelah beberapa kali gigitan. Bumbu manisnya terbuat dari gula aren, yang menyeimbangkan rasa di lidah setelah serangan pedas dari bumbu orisinal.

Fakta bahwa Lombok adalah sebuah pulau menggiring penduduknya untuk meramu makanan menggunakan bahan-bahan dari laut, termasuk yang sudah disebut di atas, geranggang. Semuanya tergantung pada tingkat kreativitas seseorang. Sekarang, saya sudah kembali ke Jakarta dan saya tidak tahu cara untuk bisa kembali menyantap rujak kopang.

lombok-heritage-rujak kopang2
By Jessicha Valentina

Di depan SMPN 1 Kopang
Desa Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Buka setiap hari, pukul 09.30-17.00 WITA
Rp3.000/US$0,20 per porsi


Good Indonesian Food is a team of foodies working to preserve and promote Indonesian culinary.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *