Malang: Ronde Titoni


“Rasanya yang manis dengan sentuhan rasa jahe dengan segera memberikan sensasi hangat di perut dan hati saya.

Semangkuk ronde panas dapat membuat tubuh seseorang terasa hangat ketika sedang mengelilingi Malang yang dingin pada malam hari. Untungnya, ada banyak penjaja pinggir jalan yang menawarkan minuman jahe, salah satu yang terkenal adalah Ronde Titoni.

Bapak Abdul Hadi mendirikan Ronde Titoni pada 1948. Dia menjajakan rondenya di sekitaran area pecinan Malang. Pada 1985, anaknya, Pak Sugeng, mengambil alih bisnis ini dan pada 1988 dia memindahkan gerainya ke lokasi yang sekarang di Jalan Zainal Arifin.

Ketika saya melihat tumpukan mochi saat memasuki toko ini, saya tahu kalau saya akan menikmati camilan khas Ronde Titoni. Namun, saya tidak tahu kalau ada dua tipe ronde, yaitu kering dan sup. Rasa penasaran saya tergelitik, saya memesan keduanya.

Varian sup tidak terlalu berbeda dari ronde yang pernah saya coba di Jawa Tengah atau Jakarta. Disajikan panas dalam mangkuk kecil, isinya terdiri atas kacang, bola-bola tepung, dan potongan roti tawar. Rasanya yang manis dengan sentuhan rasa jahe dengan segera memberikan sensasi hangat di perut dan hati saya.

Tidak pernah mendengar versi kering sebelumnya, saya kaget ketika mengetahui kalau hidangan ini adalah sepotong mochi yang disajikan dengan sup jahe. Tekstur mochi yang kenyal terasa manis dan enak, bahkan ketika dimakan tanpa sup jahenya. Andai saja Pak Sugeng mau membuka cabang di Jakarta.

malang-heritage-wedang ronde titoni
Jl. Zainal Arifin,
Malang, Jawa Timur
Buka tiap hari, pukul 17.00–24.00 WIB
Rp10.000/US$0,80 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *