READING

Malang: Soto Daging Pak Markeso

Malang: Soto Daging Pak Markeso


“Ketika soto dagingnya diserahkan kepada saya, saya mengendus aromanya yang semerbak. Bau itu membuat saya semakin tak sabar dan rasa lapar saya semakin menjadi.

Ketika sedang mempersiapkan diri untuk kunjungan ke Malang yang ternyata sangat menyenangkan, saya menjelajahi dunia maya untuk mencari tahu tentang hal-hal yang bisa saya lakukan di sana. Yang saya temukan adalah banyak situs web yang mengulas soto daging Pak Markeso, yang membuat saya memasukkan gerai tersebut di daftar teratas kunjungan. Seharusnya bukan urusan yang sulit: pergi ke tempat tersebut, makan, dan pulang dengan senyuman—seperti yang selalu saya lakukan. Namun, yang terjadi, saya harus menunggu hingga perjalanan ketiga kalinya untuk akhirnya bisa mencicipi soto daging madura. Dua kunjungan sebelumnya berakhir dengan kembali ke hotel dengan tangan kosong karena hidangan populer tersebut sudah habis terjual pada pukul 9 pagi.

Terletak cukup tersembunyi di area perumahan di Jalan Sindoro, tidak ada papan petunjuk atau perabotan yang terlihat, ketika saya sampai ke sana. Yang ada hanya gerobak kayu yang dikelilingi kursi plastik. Kerumunan sudah terlihat, jadi saya bergabung bersama mereka dan memesan semangkuk soto daging, tanpa jeroan. Kurang dari lima menit, Pak Markeso yang berumur 52 tahun, menyerahkan soto pesanan saya. Ketika soto dagingnya diserahkan kepada saya, saya mengendus aromanya yang semerbak. Bau itu membuat saya semakin tak sabar dan rasa lapar saya semakin menjadi. Saya menambahkan perasan jeruk nipis dan sesendok sambal untuk memberikan rasa pedas dan asam. Saya menyendok kuahnya dan menyeruputnya. Yang terasa adalah sensasi nikmat di lidah. Saya tidak memesan nasi, tetapi soto ini tetap bisa memberikan kenikmatan dengan rasanya yang beragam, yang muncul dari perpaduan kemiri, lada, dan kunyit.

Ketika saya sedang menyantap soto, Pak Markeso memulai perbincangan dengan menebak asal saya dari Jakarta. Telah menjalankan bisnis sotonya lebih dari 35 tahun, ia mengatakan kalau warga Malang lebih suka soto jeroan daripada daging sapi. “Kalau saya cuma menggunakan daging, saya tidak yakin kalau soto saya akan diterima seperti sekarang,” candanya. Dengan ramah, saya menyarankan untuk membuat toko di Jakarta karena saya yakin orang Jakarta akan jatuh hati dengan hidangan nikmatnya ini. Sayangnya, ia menolak saran itu. Ia memilih untuk tidak memperluas bisnisnya. Kalau begitu, kekalahan untuk Jakarta, keberuntungan untuk Malang.

Jl. Sindoro, Malang,
Jawa Timur
Buka tiap hari, pukul 07.00-09.00 WIB
Rp12.000/US$0,90 per porsi


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *