Medan: Kwetiau Kerang


Penyair sekaligus novelis Prancis Anatole France pernah berkata, “Semua berubah, bahkan yang paling dirindukan, memiliki sisi melankolisnya.” Mengingat konteksnya yang tragis, tak pernah terpikirkan oleh saya kalau syair yang begitu pedih cocok digunakan untuk ulasan restoran—sampai saya menyambangi Kwetiau Kerang di Medan.

Selama tiga tahun, saya menetap di ibu kota Sumatra Utara semasa kecil, dan selama periode yang singkat itu, saya dan orangtua kerap pergi makan malam bersama. Kebetulan, salah satu tempat makan favorit kami adalah Kwetiau Kerang yang terletak di Jalan S. Parman—tempat yang mengambil nama dari masakan andalannya kwetiau kerang (mi beras gepeng yang digoreng bersama kerang). Saya masih bisa membayangkan atmosfer tersebut secara jelas dalam benak saya: asap dari wajan memenuhi udara saat sang pemilik—seorang perempuan tua berdarah Tionghoa—memasak di bagian depan restoran.

Pada awal tahun ini, saya akhirnya mendapat kesempatan mengunjungi Medan untuk pertama kalinya setelah dua dekade. Banyak hal yang sudah berubah. Jalan S. Parman yang tadinya searah kini sudah dilebarkan, sementara toko-toko tua yang berderet di sisi jalannya sudah menjadi toko-toko modern. Yang lebih penting lagi, Kwetiau Kerang tercinta sudah menjadi restoran kecil yang menawarkan beragam hidangan. Saat saya menapakkan kaki di dalam, gelombang nostalgia yang melankolis mengalir dalam tubuh saya—semuanya berbeda, mulai dari kursi-kursi plastiknya sampai area makan dengan pendingin udaranya. Perempuan Tionghoa tua yang wajahnya masih terngiang di kepala saya—yang kemudian saya ketahui mendirikan tempat makan ini pada 1973—telah mewariskan bisnisnya ke anak-anaknya. Mereka tidak lagi mengandalkan makanan khas mereka, tetapi sejumlah stafnya sudah diajarkan cara membuatnya. Saya memesan seporsi dengan harapan setidaknya rasanya masih sama seperti dulu.

Sesaat setelah kwetiau kerang saya disuguhkan di meja, suasana hati saya yang kelabu membaik. Aroma kerang segar yang khas mencuat dari masakannya, yang secara instan membawa kembali memori-memori masa kecil yang sangat berharga. Teksturnya masih sama—tidak terlalu tebal ataupun tipis—bercampur sempurna dengan bumbu-bumbunya, sementara kerangnya yang kenyal memberi suntikan rasa gurih.
Walaupun sebagai restoran Kwetiau Kerang sudah berubah, saya merasa lega mereka masih mampu membuat pelanggan-pelanggan setianya puas dan bahagia.

Jl. S. Parman No. 22,
Medan, Sumatra Utara
T: (061) 414 3767
Buka setiap hari dari pukul 07.00-00.00 WIB
Rp30.000/US$2,30 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *