Medan: Laksa Medan


Indonesia dan Malaysia telah lama berseteru memperebutkan hak cipta atas berbagai warisan budaya. Salah satunya rendang, yang Malaysia akui sebagai miliknya pada 2009. Menurut saya, perdebatan seperti itu mirip dengan dilema lama mengenai apa yang lebih dulu ada—ayam atau telur. Dengan letak geografis dan kultur yang hampir sama antara kedua negara, sulit memastikan siapa yang menemukan apa lebih dulu.

Kultur makanan yang tak menentu ini kembali menghantui saya saat berpelesir ke Medan, ketika saya mencicipi makanan khas kota tersebut laksa medan di Jalan Yose Rizal. Tempat makan berusia 40 tahun ini menyajikan sup berbasis asam jawa itu dengan mi, ikan kembung, dan daun mint, yang setelah satu seruput mengingatkan saya akan rasa menyegarkan assam laksa penang.

Walaupun konsistensi supnya lebih ringan, tak bisa dipungkiri bahwa rasanya mirip dengan masakan khas Penang. Dan setelah membalik-balikkan halaman menunya, saya menemukan bahwa mereka juga menyajikan cendol, yang tentunya akan mengingatkan para warga Penang akan kota asal mereka.

Karena penasaran, saya bertanya kepada anak pendirinya Sri agar semuanya menjadi jelas. Dia mengatakan bahwa ibunyalah yang membuat masakan tersebut, dan dia jugalah yang mendirikan bisnis ini di usia 20 tahun. Sri melanjutkan bisnis ibunya tanpa mengetahui asal-usul makanan-makanan di dalam menunya.

Saat beranjak pergi, saya menyadari bahwa Medan dan Penang memiliki latar belakang budaya yang berhubungan: warga keturunan Tionghoa di kedua kota—atau warga Peranakan—berasal dari provinsi yang sama di Tiongkok, dan mereka berbicara dengan logat yang sama. Tampaknya akan lebih baik meninggalkan perihal seperti ini kepada para sejarahwan. Namun, sebagai penulis ulasan makanan, saya tidak peduli. Baik Penang maupun Medan, saya menyukai laksa mereka dengan setara.

Jl. Yoze Rizal, Medan,
Sumatra Utara
Buka pada Selasa hingga Minggu dari pukul 10.00-18.30 WIB
Rp30.000/US$2,30 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *