READING

Sate Khas Senayan vs Sate H. Romli (RSPP)

Sate Khas Senayan vs Sate H. Romli (RSPP)


Membandingkan Sate H. Romli dengan Sate Khas Senayan rasanya seperti membandingkan dua jenis buah yang berbeda. Di satu sisi, Sate H. Romli telah beroperasi sejak 50 tahun lalu dan telah menjadi vendor sate populer bagi mereka yang tinggal di kawasan Jakarta Selatan. Meskipun memiliki gerai seadanya, pelanggan setia tetap rajin menghampiri demi merasakan kelezatan sate ini. Sementara itu, reputasi Sate Khas Senayan di antara penghuni ibu kota juga tidak perlu diragukan lagi. Menawarkan sajian sate ayam yang lebih modern, restoran ini telah memiliki banyak cabang yang tersebar di penjuru Jakarta. Meskipun berbeda pasar, kami berusaha membandingkan kedua vendor sate ini dan mengupas kelebihan serta kekurangan keduanya. Berikut ini hasil penilaian kami.

Sate Khas Senayan

Kelebihan
Restoran Sate Khas Senayan dijamin bebas asap dan nyaman bagi para pengunjung – lengkap dengan gaya kontemporer untuk menunjang penampilan. Sambal kacangnya yang lembut dengan warna cokelat muda – kami asumsikan dibuat dari kacang mete – telah menjadi ciri khas vendor sate ini, dan membuatnya berbeda dari kompetitor lain. Di sini, pengunjung diberikan pilihan apakah satenya mau disajikan dengan atau tanpa kulit ayam. Mereka juga boleh memilih jika ingin satenya terdiri dari kulit saja, tanpa daging.

Kekurangan
Bumbu untuk daging ayam di sini sepertinya tidak meresap dengan sempurna, karena rasanya mirip dengan daging dada ayam yang dibakar seadanya. Terlebih lagi, rasa sambal kacangnya yang sedikit asin, mungkin tidak begitu cocok untuk beberapa orang.

Sate H. Romli (RSPP)

Kelebihan
Sate H. Romli menawarkan hidangan sate ayam tradisional, dimana tiap tusuk satenya terdiri dari campuran daging dan kulit ayam. Ukuran dagingnya tergolong besar jika dibandingkan dengan vendor sate tradisional lain, sedangkan sambal kacangnya memiliki tekstur yang unik. Tambahkan sedikit kecap manis, maka hidangan ini pun semakin sempurna dengan campuran rasa manis dan gurih yang seimbang.

Kekurangan
Bisa dibilang, gerai sate ini bukan destinasi kuliner yang ideal bagi mereka yang mencari tempat makan dengan suasana nyaman. Di sini, area makan dipenuhi oleh asap dari kegiatan pembakaran sate. Daging satenya juga cenderung agak gosong, sementara rasanya sedikit terlalu manis untuk beberapa orang.


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *