Solo: Toko Cokro


Sebenarnya, kami bekerja sama dengan produsen yang memasok makanan-makanan ini. Begitulah cara ibu saya menjalankan bisnis ini dan begitulah juga cara saya melanjutkan bisnis ini.

Toko Cokro selalu menjadi toko camilan yang wajib dikunjungi para turis di Solo. Didirikan pada 1973 oleh Ibu Cokro, toko ini dikenal sebagai tempat singgah orang-orang karena banyaknya varian camilan yang ditawarkan, mulai dari kue basah, intip (kerupuk khas Jawa), keripik bayam, sampai bakpia. Kami sudah mengetahui keberadaan toko ini dan akhirnya memutuskan untuk mengunjungi tempat ini saat kunjungan singkat ke Solo. Kami berhasil mengobrol dengan Ibu Nining, anak perempuan Ibu Cokro, yang mengisahkan kisah di balik toko camilan terkenalnya.

Ceritakan lebih banyak tentang Toko Cokro.
Ibu saya pertama kali membuka Toko Cokro pada 1973. Saya sudah membantunya di toko sejak masih kecil. Ketika dia meninggal pada 2002, saya menggantikannya untuk menjalankan Toko Cokro.

Ada banyak varian camilan tradisional di sini. Apa Anda membuatnya sendiri?
Tidak. Kami sebenarnya bekerja sama dengan produsen yang memasok makanan-makanan ini. Begitulah cara ibu saya menjalankan bisnis ini dan begitulah juga cara saya melanjutkan bisnis ini.

Sebagai penjual camilan tradisional, apa camilan favorit Anda?
Itu pertanyaan yang sulit. Sebenarnya bisa apa saja, asal ada singkong di dalamnya. Sebagai orang Jawa asli, saya tidak bisa menahan godaan singkong. Ada banyak camilan yang terbuat dari singkong, contohnya getuk.

Pasar Jongke, Jl. Dr. Rajiman 603
Laweyan, Solo
Buka setiap hari, pukul 06.00 – 20.00 WIB
Harga: mulai dari Rp2.000/US$0,15 untuk satu buah camilan tradisional


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *