Yogyakarta: Bakpia Pathok 25


“Sesaat setelah membelinya, saya langsung mencicipinya. Saya bisa merasakan isian kacang hijau yang manis dan lembut.”

Melihat para pelancong menenteng berkotak-kotak bakpia pathok di Bandara Adisucipto Yogyakarta adalah pemandangan yang biasa. Camilan manis tersebut sudah menjadi kudapan lokal ikonis Yogyakarta dan merupakan pilihan oleh-oleh untuk kerabat di rumah. Dari semua merek bakpia pathok—pembedaannya menggunakan nomor—yang paling terkenal selama bertahun-tahun adalah Bakpia Pathok 25.

Asal mulanya dari Tiongkok, dikenal sebagai tau luk pia (kue kacang hijau manis), makanan ini pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat Yogyakarta pada 1948 oleh para keturunan Tionghoa dari kampung Pathok, yang terletak di pinggiran Yogyakarta. Pada saat itu, makanan ini dikemas di sebuah besek (keranjang dari rotan) dan dijual di pasar tradisional. Saat ini, bakpia dikemas dalam kotak karton yang berisi 15 atau 30 buah per kotak.

Bakpia Pathok 25 dipatenkan pada 1980-an. Gerai ini memiliki beberapa cabang di seluruh penjuru kota. Saat berada di kota ini, saya mampir ke pabriknya—yang juga berfungsi sebagai toko utama—di Jalan Aip II KS Tubun, sebelum pulang meninggalkan Yogyakarta. Saya membeli sekotak bakpia orisinal berisi kacang hijau, dan kondisinya masih baru dan hangat. Sesaat setelah membelinya, saya langsung mencicipinya. Saya bisa merasakan isian kacang hijau yang manis dan lembut.

Mereka juga menyediakan berbagai pilihan rasa, mulai dari cokelat, keju, nanas, durian, dan kacang hitam. Mereka tidak menggunakan bahan tambahan kimia apa pun, jadi pastikan Anda menghabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu setelah pembelian.

Jl. Aip II KS Tubun NG 1/504, Ngampilan,
Yogyakarta
Telp: (0274) 513904
Buka tiap hari, pukul 06.00–23.00 WIB
Harga: Rp30.000/US$2,30 per kotak (ukuran kecil)


A die-hard fan of authentic Indonesian delights who loves the idea of travelling to the cradle of those enticing local treats. Yet, you might often find this young lad busy with his guitar – be it alone in his room or, sometimes, on stage.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *