Yogyakarta: Gudeg Pawon


Melanjutkan suapan saya dengan mencampur gudeg, krecek, dan opor ayam sekaligus, indra perasa saya seolah dimanjakan dengan kombinasi rasa pedas, manis, dan gurih yang sempurna.

Terdapat beberapa momen berkesan selama perjalanan saya ke Yogyakarta belum lama ini. Namun, tidak ada yang lebih berkesan dari pengalaman saya bersantap di Gudeg Pawon. “Pawon” merupakan bahasa Jawa untuk “dapur”. Dengan demikian, Gudeg Pawon dapat diartikan sebagai gudeg yang dihidangkan langsung dari dapurnya. Dan dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya merupakan pengalaman yang tidak dapat saya lupakan.

Didirikan oleh almarhum Mbah Prapto Widarso pada 1958, gudeg buatannya pertama kali dijajakan kepada publik di Pasar Sentul. Semakin populer, Mbah Prapto pun kemudian membuka dapurnya untuk umum dan mengundang para pelanggan untuk menyantap sajian gudegnya langsung di area memasak pada 2000. Keunikan inilah yang kemudian menarik minat para pencinta kuliner untuk berkunjung ke Gudeg Pawon hingga hari ini.

Meskipun di plang restoran tertera jelas waktu buka adalah pukul 22.00, saya datang ke sana pukul 21.30 untuk mengantisipasi jumlah pengunjung yang padat. Jadi, betapa kagetnya saya ketika tiba di sana, antrian di halaman belakang sudah mengular. Saya pun harus menunggu sekitar 40 menit sebelum akhirnya dapat masuk ke dapur Mbah Prapto.

Sesampainya di dalam, saya menyaksikan anak Mbah Prapto, Sumarwanto sibuk melayani pelanggan, sementara anggota keluarga yang lain dengan cekatan memasak gudeg di atas kompor kayu atau mencuci piring kotor. Suasananya cukup gelap, tapi saya masih bisa melihat warna dinding yang kotor karena terkena asap dari kompor.

Ketika tiba saatnya untuk memesan, saya segera meminta menu gudeg komplit yang dilengkapi dengan opor ayam dan krecek. Mengingat Gudeg Pawon tidak menyediakan area makan, pengunjung dipersilakan untuk menikmati hidangannya di bagian rumah manapun. Saya memilih teras, yang rupanya menjadi pilihan populer bagi mayoritas pengunjung yang datang.

Begitu menerima pesanan, saya langsung menangkap aroma yang menggugah selera baik dari opor ayam maupun nasi panasnya. Tanpa menunggu lama, saya pun menyendok suapan pertama dari gudeg, dan langsung dapat merasakan sensasi manis di lidah – ciri khas makanan tradisional Jawa. Melanjutkan suapan saya dengan mencampur gudeg, krecek, dan opor ayam sekaligus, indra perasa saya seolah dimanjakan dengan kombinasi rasa pedas, manis, dan gurih yang sempurna. Benar-benar pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Jika Anda ingin mencoba gudeg yang autentik, Gudeg Pawon merupakan tempat yang harus Anda kunjungi. Namun, mengingat antriannya yang cukup panjang , saya sarankan untuk datang lebih awal, bahkan sebelum restoran ini buka.

Jl. Janturan No. 36
Warungboto, Umbulharjo
Yogyakarta
Telp: 0274 700 2020
Buka setiap hari, pukul 22.00-24.00 WIB
Rp17.000/ US$1,25 per porsi


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *