READING

Yogyakarta: RM Lesehan Pari Gogo

Yogyakarta: RM Lesehan Pari Gogo


Sayur lombok ijo dengan wader karena mengingatkan saya akan makanan yang biasa dibuat mama saya saat dia terlalu malas memasak.

Dari semua tempat makan yang saya kunjungi selama perjalanan ke Yogyakarta, tempat terjauh yang saya datangi adalah RM Lesehan Pari Gogo. Saya harus melalui tiga jam perjalanan untuk mencapai lokasinya, di area Gunung Kidul. Melihat tempatnya, saya tidak berharap banyak dari pengalaman ini. Dan yang saya dapatkan adalah masakan rumahan yang rasanya bisa saya buat sendiri di rumah.

Sampai sebelum jam makan siang, tempat makan ini sudah dipenuhi pelanggan. Saya duduk di atas matras yang terbentang di lantai, dan Tina, cicit pendiri restoran tersebut, datang untuk menghidangkan makanan bergaya Padang. Saat saya bilang bergaya Padang, maksud saya sebagaimana seseorang akan dilayani di restoran Padang—beragam pilihan makanan di atas piring-piring kecil disajikan di atas meja. Sejauh mata memandang, tidak ada rendang sapi, hanya masakan tradisional setempat, termasuk di antaranya wader, sayur lombok ijo (tempe dan cabai hijau dimasak dalam santan), babat, belalang goreng, dan nasi merah.

Seandainya Anda pikir Anda salah baca: ya, saya menulis “belalang goreng”. Saya mencicipi setiap masakan yang disajikan, kecuali, tentunya, belalang goreng. Lidah saya suka dengan makanan pedas, jadi saya sangat terpukau dengan sayur lombok ijonya. Kombinasi tempe, cabai hijau, bawang merah, bawang putih, dan santan menghasilkan campuran rasa yang seimbang antara gurih, asin, dan pedas. Sayur lombok ijo dengan wader karena mengingatkan saya akan makanan yang biasa dibuat mama saya saat dia terlalu malas memasak. Usai bergulat dengan emosi, saya mendapat sengatan tajam dari rasa manis babatnya. Setelah beberapa hari makan gudeg, rentetan kreasi RM Lesehan Pari Gogo seperti embusan udara segar bagi lidah saya.

Perbincangan singkat dengan Tina mengungkapkan bahwa ibunya merupakan generasi ketiga dalam keluarga yang mengelola bisnis ini. Namun, dia tidak yakin kapan persisnya buyut-buyutnya membuka restoran ini. “Yang saya tahu, sebelum Indonesia meraih kemerdekaan pada 1945,” katanya.

Jl. Wonosari – Semanu,
Semanu Gunung Kidul
Telp: 0817 944 3081
Buka setiap hari, pukul 06.00-16.00 WIB
Rp. 20,000/US$1.50 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *