Yogyakarta: Sate Klatak Pak Pong


Bisa dibilang, salah satu tujuan saya ke Yogyakarta adalah mencoba sate klatak Pak Pong yang sangat direkomendasikan itu. Kabarnya, rasa sate yang dijajakan di daerah Imogiri ini enak sekali sampai-sampai kita harus rela menunggu lama untuk menikmatinya. Benar saja, saat datang jam tujuh malam di hari Sabtu, saya terpaksa menelan kekecewaan karena kondisi yang luar biasa ramai. Kalau mau bersabar menunggu, saya baru bisa menikmati sate klatak satu jam kemudian. Akhirnya, saya putuskan kembali besok pagi sesuai dengan jam buka, yaitu jam sepuluh pagi.

Besoknya, saya sengaja tidak sarapan demi mencicip sate klatak yang terkenal itu. Setelah 20 menit perjalanan dari hotel di daerah Mantrijeron, akhirnya saya tiba juga dan lega luar biasa karena warung yang baru buka itu, meski sudah ada pengunjung, baru 2-3 meja terisi. Itu artinya, saya tidak perlu menunggu lama.

Warung sate yang terletak di pinggir jalan ini bisa dibilang cukup luas karena mampu menampung sekitar 100 orang. Ada area terbuka, area saung, hingga ruangan. Menu yang disajikan berupa sate, tongseng, gulai, tengkleng, dan nasi goreng. Semuanya menggunakan bahan dasar daging kambing. Jadi, kalau Anda kurang suka daging kambing, jelas warung Pak Pong ini bukan destinasi kuliner yang tepat.

sate klatak pak pong sate klatak pak pong

Setelah 10 menit menunggu, akhirnya dua pesanan saya terhidang, sate klatak dan tongseng kambing. Dua tusuk sate disajikan dalam piring kecil dengan kuah gulai berwarna kuning di bagian bawahnya, sementara tongseng hanya berupa potongan daging, lemak, dan jeroan dengan siraman kuah kecokelatan. Oh ya, jangan heran dengan tusuk satenya yang terbuat dari jeruji sepeda. Hal ini dimaksudkan agar panas yang terhantar juga meresap masuk ke dalam daging sehingga membuat bagian dalamnya matang.

Pada gigitan daging sate klatak pertama, saya langsung menyetujui pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa sate Pak Pong enak. Benar sekali. Meski tebal, dagingnya tidak alot. Bagian dalamnya pun gurih karena sebelum dibakar diberi siraman air berbumbu kemiri, garam, dan bawang putih. Kalau Anda tidak suka lemak dan kulit, boleh minta tidak dimasukkan ke dalam sate. Tongseng yang disajikan pun gurih dengan rasa kuah yang agak pekat. Memang tidak salah kalau banyak orang yang kembali ke Yogyakarta demi bisa mencoba sate klatak Pak Pong ini.

Jl. Imogiri Timur KM. 10, Wonokromo, Pleret
Bantul, Yogyakarta
T: (0274) 822 7896
Buka Senin-Minggu, pukul 10.00-00.00 WIB
Rp50.000/ US$3,73 per orang


RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *