Yogyakarta: Soto Pak Sholeh


“Disajikan dengan tambahan potongan daging sapi di pinggirnya, soto daging terdiri atas nasi, potongan daging sapi, tauge, kol, dan seledri.

Pencinta soto di Yogyakarta memiliki kecintaan tersendiri di hati dan perut mereka untuk Soto Pak Sholeh. Pak Sholeh terjun ke bidang kuliner pertama kali pada 1952 dengan menjual nasi campur di pinggir jalan. Yang benar-benar menjadi favorit ternyata soto dagingnya. Jadi, dia memutuskan untuk fokus menjual makanan tersebut dan akhirnya membuka beberapa gerai di kota ini. Menurut keterangan salah satu karyawan, Pak Sholeh meninggal pada 2004 dan bisnisnya dilanjutkan oleh istrinya.

Berlokasi di Jalan Wiratama, tepat di sebelah Museum Monumen Pangeran Diponegoro Sasana Wiratama, toko dengan desain jadul ini cukup besar dan memiliki area parkir yang luas yang bisa menampung mobil dan bus. Saat berada di sana, hidangan yang terkenal enak itu terpampang di depan mata, karena tempat ini sedang penuh pengunjung, membuat para karyawannya sibuk menyiapkan dan mengantarkan bermangkuk-mangkuk soto kepada para pelanggan.

Saya duduk di meja yang terletak di sebelah kanan kasir. Dalam sekejap, seorang pramusaji muncul entah dari mana dan menerima pesanan saya. Tanpa ragu, saya memesan soto dagingnya, juga segelas es teh. Kurang dari lima menit, kedua pesanan saya sudah tersaji dan siap disantap.

Disajikan dengan tambahan potongan daging sapi di pinggirnya, soto daging ini terdiri atas nasi, potongan daging sapi, tauge, kol, dan seledri. Potongan dagingnya memainkan peran yang sangat penting karena teksturnya yang kenyal, enak, dengan campuran rasa manis—sebagai hasil dari proses perendaman dagingnya sebelum digoreng.
Jika Anda tertarik mampir ke sini, ada sedikit tips: datanglah lebih awal. Sotonya sering habis terjual sebelum toko ini tutup.

Jl. Wiratama No. 84,
Yogyakarta
Telp: (0274) 560584
Buka tiap hari, pukul 06.30–15.00 WIB
Harga: Rp15.000/US$1,10 per orang


A die-hard fan of authentic Indonesian delights who loves the idea of travelling to the cradle of those enticing local treats. Yet, you might often find this young lad busy with his guitar – be it alone in his room or, sometimes, on stage.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *