Palembang: Mie Terang Bulan

Kunci untuk menikmati sebuah hidangan di Mie Terang Bulan adalah kesabaran. Itulah pesan yang disampaikan oleh seorang teman sebelum keberangkatan saya ke Palembang. Tempat makan ini sangat ramai sehingga waktu pelayanannya pun cukup lama. Berdasarkan informasi tambahan yang saya terima, memang disarankan bagi para pengunjung untuk mengganjal perut dengan kudapan sebelum datang ke tempat makan ini, dan itulah yang saya lakukan.

Mie Terang Bulan baru buka pada jam lima sore setiap hari, dan tempatnya sudah penuh sesak ketika saya sampai di sana. Empat orang berdiri di luar, menunggu antrean untuk mendapatkan meja. Sebagai pengunjung pemula, saya langsung menghampiri konter dan menanyakan stafnya mengenai prosedur menunggu di sana. Dia menyuruh saya menunggu di luar sampai ada meja yang kosong. Saya pun harus menunggu selama 30 menit.

mei terang bulan mie terang bulan

Walaupun tidak sepenuhnya nyaman, kondisi ini bisa dimaklumi, mengingat tempatnya yang kecil dan kapasitasnya yang terbatas. Pada akhirnya, saya harus berbagi meja dengan pelanggan lain, dan pengalaman kuliner saya kembali terhambat lantaran pesanan saya baru datang setelah 20 menit.

Saya memesan mi kering dengan sup pangsit yang banyak digandrungi. Sekilas, hidangan ini terlihat seperti mi kering biasa. Ditaburi irisan daging babi, sup pangsitnya disajikan di mangkuk terpisah. Meskipun porsinya sedikit, irisan daging babinya yang empuk dibumbui dengan sempurna dan kaya rasa. Daging babi cincangnya yang lembut di dalam pangsit juga mencuri hati dan memuaskan perut saya.

Mi di sini terbukti sangat lezat. Bahkan, saya berani bilang kalau ini adalah mi terbaik yang pernah saya rasakan seumur hidup saya. Gurih dan kenyal, mi ini meninggalkan rasa agak asin yang memanjakan lidah. Kesabaran saya terbayar dengan setimpal, dan dalam hal ini, Anda akan dihadiahi semangkuk mi yang akan mengubah hidup Anda selamanya.

 

 

Jl. Mesjid Lama No. 144D,
Palembang
Buka setiap hari, pukul 17.00-21.00 WIB
Rp34.000/US$2,60 per orang


A die-hard fan of authentic Indonesian delights who loves the idea of travelling to the cradle of those enticing local treats. Yet, you might often find this young lad busy with his guitar – be it alone in his room or, sometimes, on stage.

RELATED POST

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *