READING

Bali: Bambu Restaurant

Bali: Bambu Restaurant


Dinamisnya dunia kuliner Indonesia telah membuat saya jatuh cinta sejak sekitar 3,5 tahun lalu. Sejauh ini, baik Jakarta maupun Bali memiliki kekuatan yang sama dalam hal jumlah rumah makan modern yang ditawarkan, dengan restoran-restoran baru yang tak pernah berhenti bermunculan setiap bulannya. Meski demikian, hanya sedikit yang mampu bertahan dan tetap populer di kalangan pencinta kuliner. Salah satunya adalah Bambu di Seminyak, Bali.

Dibuka pada 2014, Bambu terletak di Jalan Petitenget yang sibuk. Sebelum berangkat, saya sudah memesan tempat di sana untuk pukul 21.30. Namun, saya berubah pikiran dan berniat untuk datang pada pukul enam sore. Beruntung, sang resepsionis cukup berbaik hati dan memperbolehkan saya untuk datang ke restoran pada jam tersebut dan mencoba mencarikan meja untuk saya.

Saat tiba, saya diberitahu bahwa meja saya sudah tersedia, meskipun hanya sampai pukul 19.30. Saya pun menuju lantai dua, dan cukup terkesan dengan atmosfer restoran yang sangat nyaman. Sembari berjalan, saya mengamati bagaimana Bambu berhasil mengkombinasikan nuansa tradisional Indonesia dengan desain kontemporernya. Ini terlihat dari keberadaan joglo di atas kolam dan juga penggunaan serbet bermotif batik.
Setelah duduk manis, salah satu staf bernama Sari memperkenalkan dirinya dan kemudian bercerita sedikit soal sejarah restoran ini. Mengingat ini merupakan pengalaman pertama saya berkunjung ke Bambu, saya memintanya untuk memberikan rekomendasi menu di sini. Pada akhirnya, saya memesan ayam pelalah, sayur sambiki, dan tuna bakar.

Sambil menunggu makanan saya datang, saya mencoba hidangan complimentary berupa rempeyek. Rasanya mengingatkan saya akan rempeyek buatan asisten rumah tangga saya, walaupun yang ini lebih tidak berminyak, sementara terinya bisa berpadu apik dengan tepung. Baru saja saya berniat untuk meminta bungkusan kedua, pesanan saya tiba di atas meja. Ayam pelalah di sini menggunakan bumbu Bali yang lebih ringan jika dibandingkan dengan hidangan Bali lain yang pernah saya cicipi, sementara sayur sambikanya memiliki kombinasi yang kompleks antara rasa manis dan gurih.

Setelah selesai dengan hidangan utama, saya pun beralih mencoba hidangan penutup. Saya memilih laklak (pancake tradisional Bali) untuk menutup pengalaman bersantap saya di Bambu. Biasanya, laklak yang dijual di pinggir jalan memiliki tekstur yang kenyal, meskipun agak padat. Di Bambu, laklaknya lebih garing, tapi masih memiliki kekenyalan yang pas. Poin tambahan lain juga terletak pada rasa santannya yang kental.
Selain menyajikan hidangan yang lezat, pelayanan di Bambu bisa dibilang juara. Semua stafnya sangat ramah dan juga cekatan dalam melayani pelanggan. Singkat kata, saya pun meninggalkan restoran ini dengan senyum merekah di wajah saking puasnya.

Jl. Petitenget No. 198,
Seminyak, Bali
Telp: (0361) 846 9797
Buka setiap hari, pukul 18.00-24.00 WIB
Harga: Rp.250.000/US$19 per orang


Started her career as a food writer in 2012, Jessicha Valentina is the online editor of Good Indonesian Food. Jessicha has loved Sayur Asem since she was a wee kid and spends her free time trying to cook it.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *